Sabtu, 21 Mei 2011

Antara Proses dan Hasil

Percaya gak, hasil itu gak penting?
Mungkin sebagian besar orang akan menjawab tidak. Setiap orang berorientasi pada hasil dalam melakukan apapun, semua ingin hasil yang terbaik sebagai reward dari apa yang sudah dilakukan.
# Saya pun sepakat
Saya sepakat bahwa hasil itu penting, tapi proses dalam mendapatkan hasil itu jauh lebih penting.
Allah sendiri pun menegaskan hal itu,"Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu" (Q.S. 9: 105).
Tugas kita bekerja dengan sebaik-baiknya bukan mendapat hasil yang sebaik-baiknya. Itu karena Allah menilai bagaimana kita bekerja, karena hasil itu urusan Allah.
Banyak hikmah yang tersembunyi di balik ayat ini. Hikmah yang bisa disingkap oleh hati mereka yang yakin proses yang baik adalah untuk hasil yang baik. Tidak ada rasa kecewa ketika setelah bekerja dengan sebaik-baiknya lalu menyerahkan semua keputusannya pada Allah.

# Proses sebagai pondasi
Saya tidak mengatakan kalau proses yang panjang itu lebih baik daripada proses yang singkat. Jika proses singkat namun berkualitas, itu lebih baik. Yang pasti manusia yang mengalami proses untuk menjadi lebih baik itu biasanya lebih memiliki pondasi yang kuat. Lebih mampu bertahan ketika niat menjadi pribadi yang lebih baik itu tergoyahkan.
Sudah banyak contoh yang saya temukan untuk pribadi-pribadi instan yang rapuh sekali. Begitu cepat mereka berubah, sampai memaksakan diri menjadi orang lain. Dan mereka jugalah orang-orang yang begitu cepatnya berubah kembali. Rasanya aneh, ketika mereka sudah tahu - lalu berubah menjadi sempurna - lalu pura-pura tidak tahu.

Entahlah, bagaimana kau menginterpretasikan maksud tulisan saya ini teman.
Saya cuma ingin mengatakan, proses itu indah. Seperti kupu-kupu. Sebelum menjadi kupu-kupu, mereka harus menjadi ulat dulu lalu kepompong, baru bisa bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah.
Begitu pun manusia. Saya lebih suka ketika kita menikmati setiap proses pembelajaran dalam menjadikan diri menjadi lebih baik, karena proses itu mengajarkan kita untuk paham, menghayati untuk apa berubah?

Teruntuk semua orang yang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, maka berproseslah, hayati setiap hal baik yang dilakukan.
*untuk adikku, ayuk lebih suka ketika kau memahami mengapa harus berjilbab, atau pake kaos kaki, atau halaqoh... semoga setiap prosesmu menjadikanmu seorang muslimah sejati, karena kesadaranmu sendiri.. ok? ^^

Senin, 11 April 2011

Tekadku Hari Ini

Aku mau memulai hari yang indah ini dengan semangat
semangat yang mampu membakar rasa sedih, menghalau resah hati
karena Allah telah memberi kenikmatan yang begitu berharga hari ini..
Alhamdulillah karena Allah masih membukakan mataku pagi ini
Allah masih mengizinkan jantungku berdetak sampai detik ini
Allah masih memberikan oksigen yang segar pagi ini

Aku mau menjalani hari ini dengan senyuman
senyuman yang mampu menebarkan bahagia di hati orang lain, membagi kebahagiaan
karena Allah menyukai hambaNya yang bersedekah walau hanya dengan senyuman itu...

Aku bahagia hari ini.....
fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban

Jumat, 08 April 2011

Makalah Seminar Koloqium

MAKALAH KOLOQIUM MAHASISWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Judul : Pemanfaatan Protein Hewani untuk Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis sp.)
Nama : Resti
NIM : 06071009036
Pembimbing: Drs. Kodri Madang, M.Si


Abstrak
Untuk mencapai produksi ikan yang maksimal, diperlukan pembudidayaan ikan secara intensif. Dalam pemeliharaan intensif, pemberian pakan mutlak dibutuhkan. Salah satu budidaya ikan yang telah lama dikembangkan di Indonesia adalah budidaya ikan nila. Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki banyak keunggulan. Ikan nila dapat berkembangbiak dengan cepat, oleh sebab itu pertumbuhannya harus diimbangi dengan pemberian pakan yang banyak dan mengandung protein tinggi. Pemanfaatan protein hewani diujicobakan pada jenis ikan Nila GIFT dan ikan nila merah. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui sumber protein hewani yang berpotensi sebagai pakan yang baik bagi pertumbuhan ikan nila. Hasil uji dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa silase jeroan ikan mengandung 18-20 % protein dan 17 asam amino sedangkan daging bekicot mengandung 35,56% protein, 37,77% karbohidrat dan 4,6% lemak.

Kata Kunci: Ikan Nila GIFT, ikan nila merah, daging bekicot, silase jeroan ikan, protein.

PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara dengan perairannya yang luas merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan. Budidaya ikan yang telah cukup lama dikembangkan di Indonesia di antaranya adalah budidaya ikan Nila GIFT (Genetic Farmed of Tilapia) dan ikan nila merah. Ikan Nila GIFT merupakan jenis ikan unggul hasil perkawinan silang ikan Nila lokal, sedangkan ikan nila merah merupakan persilangan Oreochromis niloticus dan Oreochromis hornorum.
Beberapa keunggulan yang dimiliki ikan nila yaitu bernilai ekonomis tinggi, benihnya mudah diperoleh, tahan tehadap penyakit, mudah berkembang biak, makan segala jenis pakan, batas toleransi lebar atau tahan terhadap perubahan lingkungan, dan bernilai gizi tinggi (Pongsapan, 1994; Pirzan dan Tahe, 1995 dalam Maretha, 2005). Budidaya ikan nila perlu mendapat perhatian karena dapat dimanfaatkan dalam pemenuhan gizi masyarakat dan membantu perekonomian sehingga dirasa perlu untuk membudidayakan ikan secara intensif. Pemberdayaan ikan secara intensif tentu membutuhkan adanya ketersediaan pakan ikan. Pakan berfungsi untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, produksi ikan nila cenderung menurun. Faktor utama yang menyebabkan penurunan tersebut yaitu keterbatasan jumlah pakan, harga pakan relatif mahal, dan kandungan protein pakan yang rendah. Perkembangbiakan ikan nila yang relatif cepat tidak mampu diimbangi dengan ketersediaan pakan alami seperti plankton, hydrilla, dan ganggang yang banyak. Permasalahan tersebut perlu diatasi dengan pakan alternatif yang mengandung nilai protein tinggi, tersedia dalam jumlah cukup banyak, dan harga relatif murah. Salah satu alternatif untuk menekan biaya produksi pembuatan pakan adalah dengan memanfaatkan bahan baku lokal termasuk memanfaatkan limbah yang belum banyak dimanfaatkan, namun tetap memiliki kandungan protein yang tinggi.
Protein merupakan nutrisi yang paling dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan. Protein mengandung senyawa nitrogen selain karbon, hidrogen dan oksigen. Protein termasuk zat makanan yang sangat penting karena selain berfungsi sebagai bahan bakar bagi tubuh, juga tergolong zat pembangun dan pengatur (Jaya, 1982 dalam Isnaniati, 2004). Sumber protein untuk nutrisi ikan dapat berupa protein hewani maupun protein nabati. Namun, sumber protein hewani lebih baik dibandingkan protein nabati karena protein nabati hanya mengandung asam amino tertentu saja dan lebih sulit dicerna karena adanya selulosa. Menurut Mudjiman (1984) dikatakan bahwa protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk menghasilkan energi maupun untuk pertumbuhan. Adapun tingkat protein optimum dalam pakan untuk mendukung pertumbuhan ikan berkisar antara 25-50%. Menurut Lehninger (1994), protein ini nantinya akan dihidrolisis dengan bantuan enzim-enzim pencernaan sehingga terbentuklah asam amino.
Kebutuhan protein untuk ikan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ukuran ikan, ketersediaan dan kandungan gizi pakan, keseluruhan kandungan energi yang dapat dicerna oleh ikan dan mutu protein tersebut. Mutu protein tergantung pada kuantitas dan kualitas asam amino esensial yang terkandung di dalamnya serta daya serapnya (bioavailability). Protein yang dicerna oleh ikan digunakan sebagai sumber energi untuk pembaruan/mengganti jaringan yang rusak dan pertumbuhan ikan (Kurniawan,2001). Penggunaan protein pakan akan sangat berguna jika semua protein tersebut digunakan untuk pertumbuhan atau perbaikan jaringan dan dapat dikatabolisme sebagai energi. Beberapa bahan baku yang dapat digunakan sebagai sumber protein adalah daging bekicot, cacing tanah, jeroan ikan, ikan teri, dan belut. Upaya pemanfaatan daging bekicot sebagai pakan ikan nila telah dilakukan oleh Maretha (2005), sedangkan pemanfaatan silase jeroan ikan oleh Isnaniati (2004). Diketahui bahwa pakan alternatif tersebut mengandung protein yang tinggi.
Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat dirumuskan masalah dari makalah ini yaitu pakan manakah yang mengandung protein hewani tinggi dan bagaimana protein tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan nila. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pakan ikan yang mengandung protein hewani tinggi untuk pertumbuhan ikan nila. Selain itu, dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat bahwa ada alternatif sumber protein hewani yang mudah didapat dan lebih ekonomis untuk membantu pembudidayaan ikan nila. Untuk membatasi lingkup pembahasan, contoh protein hewani yang digunakan adalah daging bekicot dan silase jeroan ikan.


Ciri Morfologi Ikan Nila GIFT dan Ikan Nila Merah
Ikan Nila GIFT termasuk ke dalam filum Chordata, kelas Osteichthyes, ordo Perciformes, famili Chiclidae, genus Oreochromis, spesies Oreochromis niloticus, sedangkan spesies ikan nila merah adalah Oreochromis sp (Anonim, 2008). Menurut Iskandar dan Astuti (2000), warna tubuh ikan nila GIFT hitam, agak keputihan. Tubuh ikan Nila GIFT memanjang dengan perbandingan panjang dengan tinggi 2 : 1. Kepalanya relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala. Mata ikan Nila GIFT besar dan tidak menonjol, memiliki sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus, dan sirip ekor.

Ikan nila merah memiliki sifat-sifat umum antara lain bentuk tubuh pipih dan berwarna kemerahan atau kuning keputihan (Putra, 2009). Akibat perkawinan atau persilangan alami antar genus maupun antar spesies tersebut timbul keragaman pewarnaan tersebut. Nila merah berbadan panjang dengan perbandingan antara panjang dan tinggi badan dua banding satu. Kemudian jika dipotong di bagian tengah dari tubuhnya memiliki perbandingan antara tinggi dan lebar badan empat banding satu. Jadi nila merah bisa dikatakan berbadan gepeng. Matanya kelihatan besar dan menonjol dengan warna kekuningan pada bagian tepinya.

Pertumbuhan dan perkembangan ikan dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Suhu, oksigen, kualitas dan kuantitas pakan serta ruang gerak bagi ikan termasuk faktor eksternal. Sedangkan faktor internalnya adalah keturunan, umur, resisten terhadap penyakit dan kemampuan dalam memanfaatkan pakan (Huet, 1979 dalam Maretha,2005). Ikan nila memiliki kebiasaan makan yang berbeda sesuai tingkatan usianya. Ikan muda membutuhkan protein lebih tinggi daripada ikan dewasa. Hal tersebut disebabkan karena ikan muda membutuhkan protein untuk pertumbuhan, sedangkan ikan dewasa menggunakan protein hanya untuk pemeliharaan. Ikan nila termasuk ikan omnivora, maka kebutuhan proteinnya berada di antara ikan karnivora dengan herbivora. Pada dasarnya dalam meramu pakan untuk ikan nila akan lebih mudah dan murah karena dapat memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar kita.
Menurut Lehninger (1994), protein yang dikonsumsi oleh ikan nantinya akan dihidrolisis dengan bantuan enzim-enzim pencernaan sehingga terbentuklah asam amino. Asam amino tersebut akan diserap ke dalam usus halus dan dibawa oleh aliran darah menuju ke sel-sel tubuh yang membutuhkannya. Di dalam sel yaitu di bagian ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma dengan bantuan energi dari mitokondria dan di bawah perintah inti sel, asam amino tersebut akan dibentuk kembali menjadi protein. Protein baru yang terbentuk itu nantinya akan digunakan sel tersebut untuk mempercepat laju mitosis sehingga terjadilah pertumbuhan. Selain itu, adanya jumlah protein yang cukup diperlukan untuk penyusunan struktur-struktur sel dan meregenerasi sel-sel yang sudah tua atau rusak. Oleh karena itu, semakin banyak asam amino yang terserap memungkinkan untuk menunjang pertumbuhan ikan menjadi lebih baik.

Komposisi Sumber Protein Hewani
Ada perbedaan komposisi sumber protein hewani terutama yang berasal dari bekicot (Achatina fulica) dan silase jeroan ikan. Daging bekicot mengandung gizi yang cukup tinggi terutama protein, diketahui bahwa bagi ikan protein merupakan sumber zat pembangun yang paling utama. Daging bekicot dapat diolah menjadi pakan ikan yang berprotein tinggi dan jumlahnya pun berlimpah. Umumnya ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan-hewan ternak di darat lainnya seperti unggas dan hewan menyusui. Dari hasil penelitian Hasan (1997) diketahui bahwa kandungan protein daging bekicot 64,14%, lemak 3,92%, Ca 6,93%, dan P 0,92%. Menurut Wijiyati, 1982 dalam Maretha, 2005, daging bekicot memiliki 17 macam asam amino yaitu arginin, histidin alanin asam aspartat, asam glutamat, glisin, prolin, serin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, sistein, fenilalanin, tirosin, treonin dan valin.
Sedangkan silase jeroan ikan merupakan penggunaan kembali limbah ikan guna memenuhi kebutuhan protein yang akan mendorong pertumbuhan ikan dan sebagai pakan yang efisien untuk ikan. Ditinjau dari ketersediaan bahan baku, pembuatan silase sangat cocok diterapkan di Indonesia karena memanfaatkan ikan-ikan yang tidak digunakan. Kelebihan dari produk silase menurut Afrianto dan Liviawaty (1989) adalah teknik pengerjaan mudah dan murah, tidak tergantung pada kuantitas atau kualits bahan baku yang digunakan, dapat dilakukan untuk memanfaatkan ikan-ikan yang tidak digunakan, dan pengolahan ikan menjadi silase tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Proses pengolahannya dilakukan dengan memanfaatkan enzim-enzim yang terdapat dalam tubuh ikan itu sendiri. Untuk membantu mempercepat prosesnya serta untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan cendawan, maka perlu ditambah asam yaitu asam formiat dan asam propionat (Mudjiman, 1995).
Silase ikan adalah bentuk hidrolisa protein dalam suasana asam sehingga mikroorganisme pembusuk tidak dapat hidup karena pH sekitar 4. Dalam suasana asam, hanya mikroorganisme tertentu yang dapat hidup (tumbuh), yang bukan bersifat pembusuk tetapi dapat menghidrolisa protein dan lemak. Keuntungan silase ikan yaitu proses pembuatannya yang tidak memerlukan energi tapi hanya memerlukan asam, dapat dilakukan dalam skala besar atau kecil dan pada pH yang lebih rendah dari 4,5, produk akan tetap steril. Silase ikan juga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan karena tidak ada bahan yang terbuang (Rahardi dkk, 2001 dalam Isnaniati, 2004). Menurut hasil penelitian, 4 kg silase ikan setara dengan 1 kg tepung ikan. Silase yang dibuat dari ikan utuh mengandung 70-74% air, 18-20% protein, 1-2% lemak, 4-6% abu (Suyanto, 2002 dalam Isnaniati, 2004). Pada protein jeroan ikan terdapat juga17 jenis asam amino, yaitu asam aspartat, asam glutamat, treonin, serin, prolin, glisin, alanin, sistein, valin, metionin, isoleusin, leusin, histidin, tirosin, fenilalanin, lisin dan arginin.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa daging bekicot lebih baik sebagai pakan ikan. Pertimbangan ini didasari oleh beberapa hal berikut, yaitu kandungan protein bekicot lebih tinggi sehingga kandungan asam amino essensial lebih banyak , daging bekicot lebih segar dibandingkan jeroan ikan. Tingkat kesegaran daging merupakan faktor yang penting. Menurut Rustamaji (2009), bahan mentah yang akan dikonsumsi harus mempunyai kesegaran yang baik.

Pemanfaatan Protein Hewani untuk Pertumbuhan Ikan Nila
Pemanfaatan protein hewani sebagai pakan telah dilakukan oleh Maretha (2005) dan Isnaniati (2004). Dalam penelitian Maretha, pemberian daging bekicot dilakukan dalam perlakuan dengan formulasi 60 g tepung daging bekicot, dedak halus 30 g, tepung tapioka 9,5 g dan garam 0,5 g, dilakukan dalam lima kali ulangan. Benih ikan Nila GIFT yang dijadikan sampel berumur 3 bulan. Setiap hari ikan diberi makan sebanyak 4% dari total berat badan setelah pengukuran. Pemberian pakan dengan cara ditebarkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan ikan Nila GIFT bertambah secara signifikan. Protein merupakan komponen utama yang membentuk jaringan tubuh ikan yaitu sekitar 65-75% dari total berat badan ikan.
Kebutuhan protein ikan Nila GIFT dalam pakan berkisar antara 20-30%, jadi daging bekicot dengan kandungan protein 35,56 % melebihi kebutuhan untuk pertumbuhan ikan. Kelebihan protein akan menghasilkan energi yang digunakan untuk proses pembongkaran atau deaminasi untuk membuang sisa metabolisme sehingga energi tersebut tidak digunakan secara maksimal. Hal tersebut dapat dilihat dari berat badan yang bertambah signifikan namun pertambahan panjang, tinggi dan lebar ikan kurang signifikan. Namun dari tabel 1 dapat disimpulkan bahwa parameter yang diukur mengalami pertambahan seiring dengan bertambahnya umur ikan. Pertambahan panjang total, panjang panjang baku, tinggi badan, lebar badan dan berat badan dihitung dari pengukuran saat umur ikan 5 bulan dikurang pengukuran saat ikan berumur 3 bulan. Daging bekicot juga mengandung lemak yang cukup tinggi. Dapat dilihat pengaruh kadar lemak tersebut dari berat badan ikan Nila GIFT yang mengalami pertambahan yang cukup signifikan.

Tabel 1. Pertumbuhan Ikan Nila GIFT yang Diberi Pakan Daging Bekicot (Maretha, 2005)
Parameter Umur Ikan (bulan) Pertambahan
3 3,5 4 4,5 5
Panjang total 5,07 6,76 6,86 7,63 7,99 2,92
Panjang baku 4,52 5,03 5,92 6,55 7,19 2,67
Tinggi badan 1,30 1,52 1,97 2,07 2,10 0,80
Lebar badan 0,64 0,76 0,84 1,02 1,07 0,43
Berat badan 3,04 6,64 18,73 32,81 35,78 32,74

Pemberian silase jeroan ikan pada ikan nila merah oleh Isnaniati (2004) dilakukan dengan pembuatan silase limbah jeroan ikan yang kemudian dijadikan sebagai bahan penyusun pakan. Prinsip penggunaan silase jeroan ikan adalah menurunkan pH jeroan ikan agar pertumbuhan dan perkembangan bakteri pembusuk berhenti. Kadar protein yang baik untuk ikan nila adalah 20-25%, sedangkan silase jeroan ikan hanya mengandung 18- 20 % protein. Pertambahan berat badan pada ikan nila merah yang diberi silase jeroan ikan lebih kecil dibandingkan pada ikan Nila GIFT yang diberi tepung daging bekicot (ditunjukkan pada tabel 2).
Kualitas silase tergantung dari bahan yang digunakan, teknik pembuatan dan kegiatan organisme. Pada penelitian Isnaniati, pembuatan silase menggunakan jeroan ikan yang mengandung kadar lemak cukup tinggi sehingga silase jeroan ikan yang dihasilkan memiliki kadar lemak cukup tinggi juga. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya oksidasi dari lemak yang akan menghasilkan senyawa peroksida dan akhirnya menurunkan mutu dari pakan tersebut. Silase dengan pH sekitar 4,5 diperkirakan masih ada mikroorganisme yang tidak diinginkan sehingga dapat menghambat pertumbuhan ikan (Ensminger dkk, 1990 dalam Isnaniati, 2004).

Tabel 2. Pertumbuhan Ikan Nila Merah yang Diberi Pakan Silase Jeroan Ikan (Isnaniati, 2004)
Parameter Umur Ikan (hari) Pertambahan
30 40 50 60 70
Panjang total 6,20 7,63 8,93 10,48 11,75 5,55
Panjang baku 150 156,50 167,00 175,50 190,25 40,25
Tinggi badan 120 124,50 132,25 139,00 150,50 30,5
Lebar badan 42,25 42,75 44,25 46,25 49,50 7,25
Berat badan 19,65 20,88 21,85 23,20 25,05 5,4

Berdasarkan informasi tersebut, daging bekicot dan silase jeroan ikan dapat dijadikan alternatif protein hewani untuk pakan ikan nila yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan. Mengingat pentingnya protein bagi pertumbuhan, maka ikan nila harus mendapatkan protein yang cukup dan seimbang. Apabila protein yang dibutuhkan kurang, maka ikan akan merombak lemak dan karbohidrat yang dikandungnya. Jika terjadi perombakan lemak, maka kandungan asam amino esensial akan berkurang. Kekurangan akan asam amino esensial akan menyebabkan perubahan struktur membran sel dan mengakibatkan perubahan permeabilitas membran sel. Aktivitas enzim-enzim di dekat mitokondria menjadi terganggu karena perubahan permeabilitas itu. Selanjutnya akan terjadi gangguan metabolisme energi sehingga sintesis protein terganggu dan akhirnya pertumbuhan menjadi rendah (Fleisher dkk, 1962 dalam Isnaniati, 2004).
Protein diserap dalam bentuk asam amino, yang dibawa ke hati untuk dibentuk menjadi protein lagi, sesuai dengan kebutuhan ikan. Zat-zat makanan yang telah diserap oleh darah kemudian diedarkan ke seluruh tubuh untuk keperluan metabolisme, pembentukan zat-zat (senyawa) yang lebih kompleks disebut anabolisme, seperti pembentukan protein dari asam-asam amino. Pemecahan senyawa kompleks untuk menghasilkan energi disebut katabolisme, seperti pemecahan karbohidrat menjadi tenaga, air dan karbondioksida. Pada hewan darat, penggunaan sumber energi pertama yaitu karbohidrat, lalu lemak, dan terakhir protein. Pada ikan terjadi sebaliknya, pertama protein, disusul lemak, kemudian karbohidrat.
Protein dalam makanan (pakan) dapat menghasilkan asam amino dengan proses hidrolisis. Hidrolisis protein dengan asam atau basa menghasilkan suatu campuran asam amino bebas sebagai unit pembangunnya. Asam amino yang terbentuk akan diabsorpsi dan dibawa oleh darah menuju sel-sel yang membutuhkan. Di dalam mitokondria, terbentuk asetil koA yaitu senyawa penghubung antara metabolisme asam amino dengan siklus asam sitrat (merubah menjadi energi). Pada siklus asam sitrat, reaksi metabolisme asam amino meliputi reaksi pelepasan gugus asam amino dan perubahan kerangka karbon. Terjadi proses transaminasi yaitu katabolisme asam amino berupa pemindahan gugus amino dari suatu asam amino ke senyawa lain seperti asam piruvat, ketoglutarat atau oksaloasaetat. Sehingga (keto) senyawa tersebut diubah menjadi asam amino, sedangkan asam amino diubah menjadi senyawa keto. Senyawa-senyawa yang dihasilkan dari siklus asam sitrat akan diubah kembali menjadi asam amino sebagai protein baru. Protein yang baru terbentuk akan digunakan sel untuk mempercepat proses mitosis sel. Makin banyak protein yang dibentuk, maka makin mempercepat pembelahan sel sehingga terjadilah pertumbuhan (Unair, 2009).

Penutup
Daging bekicot dan silase jeroan ikan merupakan pakan alternatif yang mengandung protein hewani tinggi. Kandungan protein daging bekicot 35,56%, sedangkan silase jeroan ikan 20 % dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan ikan nila. Namun, daging bekicot lebih baik daripada silase jeroan ikan karena nilai proteinnya lebih tinggi dan tingkat kesegaran daging lebih tinggi sehingga lebih baik untuk pakan. Protein pada daging bekicot lebih tinggi sehingga kandungan asam amino juga lebih banyak, jadi pertumbuhan dapat berlangsung lebih cepat. Selain itu, daging bekicot mengandung lemak lebih tinggi sehingga menambah berat badan ikan nila.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Seputar Budidaya Ikan. http://www.scribd.com/doc/23026245/BUDIDAYA-IKAN-NILA. Diakses tanggal 12 Mei 2010.

Afrianto, E dan E, Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.
Bhaswaradharmacakti. 2009. Ikan Nila GIFT. http://bhaswaradharmacakti.blog.com/files/2009/08/nila-bogor-21-300x225.jpg. Diakses tanggal 17 Mei 2010.

Diskan. 2009. Ikan Nila Merah. http://www.diskan.jabar.go.id/images/galeri/Nila%20Merah.JPG. Diakses tanggal 17 Mei 2010.


Iskandar dan S. Astuti. 2000. Pengaruh Jumlah dan Frekuensi Pemberian Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus). Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian UNPAD. Bandung Jayanto, Adi D. Budidaya Ikan Nila.
Isnaniati, S. 2004. Pertumbuhan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) yang Diberi Pakan Silase Jeroan Ikan dan Sumbangannya pada Pelajaran Biologi di SMA. Skripsi. FKIP Universitas Sriwijaya. Inderalaya.
Kurniawan, D. Upaya Meramu Pakan Ikan Tanpa Minyak dan Tepung Ikan. http://defishery.wordpress.com/2009/11/08/manajemen-pakan/. Diakses tanggal 12 Mei 2010.
Lehninger, A.L. 1994., Dasar-Dasar Biokimia. Alih Bahasa Maggy Thenawijaya. Erlangga. Jakarta.
Maretha, Delima Engga. 2005. “Efek Pemberian Pakan Campuran Tepung Daging Bekicot (Achatina fulica) dan Ampas Tahu Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus) dan Model Pembelajarannya Pada Mata Pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas”. Skripsi. Inderalaya: Jurusan FKIP Biologi Universitas Sriwijaya.
Mudjiman, A. 1995. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Putra. 2009. Ikan Nila Merah (Oreochromis sp). http://whedacaine.wordpress.com/2009/08/01/ikan-nila-merah-oreochromis-sp/. Diakses tanggal 17 Mei 2010.

Rustamaji. 2009. Aktivitas Enzim Katepsin dan Kolagenase dari Daging Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskall) Selama Periode Kemunduran Mutu Ikan. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/ bitstream/123456789/ 13733/2/C09rus.pdf. Diakses tanggal 17 Mei 2010.

Unair. 2009. Metabolisme Asam Amino Protein. http://www.diskan.jabar.go.id/ images/ galeri/ Nila% 20-Merah. JPG. Diakses tanggal 19 Mei 2010.

Wirabakti, Murrod Candra. “Laju Pertumbuhan Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) Yang Dipelihara Pada Perairan Rawa Dengan Sistem Karamba Dan Kolam”. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(1) : 61-70.

Uniknya Dunia Cewek

Cerita kali ini berawal dari memori saya akan pengajian angkatan yang dilaksanakan oleh anak-anak FKIP biologi 2007 dua tahun yang lalu, ketika saya masih sebagai kadept kerohanian HMB. Karena mayoritas penghuni kelas kami adalah cewek, so tema waktu itu yang diangkat adalah menguak kepribadian cewek yang asyik dan unik. Referensi saya waktu itu adalah dengan membaca buku Psikogirly nya Deasylawati P.
Kepribadian cewek itu memang unik dan rumit bagi mereka yang tidak mengerti
(biasanya bagi cowok nih). Banyak fakta yang menunjukkan kalau cewek itu hobinya cerita, kalau sudah ngumpul, pasti rame. Cewek juga suka komentar, cewek itu cerewet dan yang pasti cewek itu penakut (katanya).
Ternyata mempelajari kepribadian /psikologi itu menyenangkan. Tidak selamanya yang kita dengar kalau cewek itu repot dan nyebelin itu benar. Segala hal yang membuat cewek jadi seperti itu sebenarnya sudah dapat dijelaskan secara ilmiah. Mulai dari mengapa cewek itu senang sekali berbicara, suka menangis, dan emosinya labil.
Secara ilmiah, jantung wanita (cewek ganti wanita aja ya) itu diciptakan lebih kecil ukurannya dibandingkan laki-laki. Detaknya pun seringkali tidak normal, ini dipengaruhi oleh hormone…wanita merupakan makhluk yang mudah menangkap makna kata-kata lisan, mereka lebih mudah mengingat kata-kata yang dianggap berkesan. Wanita juga memiliki kelebihan pandai dalam menangkap ekspresi wajah orang lain.

Berikut keunikan Wanita:
1. Otaknya.
Sel-sel otak perempuan akan menumbuhkan lebih banyak jembatan2 yang menghubungkan pusat-pusat komunikasi. Inilah yang menyebabkan wanita itu suka berbicara. Wanita bisa menggunakan sekitar 20.000 kata per hari sedangkan laki-laki hanya 7000 kata per harinya. Rahasia otak wanita nih:
- wanita memiliki lebih banyak sel saraf di sebelah kiri otaknya, yang menjadi dasar kemampuan memproses bahasa.
- Wanita memiliki lebih banyak dopamine di sisi otak yang mengendalikan bahasa. Dopamine ini merupakan pembawa pesan kimiawi yng bertanggung jawab atas keterampilan bahasa dan memori.
- Otak wanita mampu membaca suasana hati dan emosi. Wanita lebih cepat memahami emosi seseorang hanya dengan melihat ekspresi wajah ataupun nada bicara. Bukan berarti laki-laki gak bisa loh, tapi memang wanita disetting untuk memiliki kelebihan itu.
- Otak wanita adalah otak yang takut konflik. Wanita cenderung menghindari konflik dan itu terlihat dari kecil saat mereka bergaul. Anak perempuan sering menggunakan kata-kata seperti ini: “Ayo kita main rumah-rumahan” atau meminta persetujuan teman2nya: “Saya yang menjadi dokter ya?”. Berbeda dengan anak laki-laki yang cenderung memerintah anak lain.
- Pada wanita, konflik lebih besar memacu stress dan gelisah. Memori mereka sangat kuat untuk sesuatu yang tidak menyenangkan.

2. Hormonnya
Ternyata hormon estrogen bukan hanya bertanggungjawab atas fase menstruasi, tetapi juga berefek pada cara wanita belajar, berpikir dan mengingat. Homon sangat mempegaruhi fluktuasi emosi dan suasana hati wanita. PMS (Pre Menstrual Syndrome) yaitu sekumpulan gejala berupa gangguan fisik dan mental yang dialami wanita menjelang menstruasi dan menghilang beberapa hari setelahnya. Ini sangat mengganggu wanita, baik fisik (nyeri) atau mental (mudah tersinggung dan sensitif).
Bahkan kalau ada yang parah, bisa sampai sakit yang benar-benar sakit loh. Saya punya teman yang setiap bulannya bisa sampai muntah menahan sakit. Kalau saya sendiri, pasti mengalami fluktuasi emosi itu. Perasaan mudah marah, tersinggung itu hampir dialami oleh setiap wanita jika masa PMS. Ini yang kurang dipahami oleh laki-laki. Biasanya wanita yang sedang seperti itu akan mudah terganggu oleh gangguan sepele. Iya, masalah sepele dan gesekan-gesekan kecil bisa jadi masalah besar saat itu.

Wanita itu....
# Sang Pembicara
Bagi wanita, komunikasi adalah kebutuhan utama. Berbagi perasaan jauh lebih penting dibanding kompetisi. Dr.John Gray,Ph.D mengatakan bahwa jika mengalami ketegangan, wanita mencari kelegaan dg menemui orang yg dipercayainya, kemudian cerita secara detail, baru merasa lebih nyaman. Otaknya disetting merasa lebih baik dg berbicara. Oksitosin yg berperan memotivasinya.
Apa yg terjadi ketika wanita marah?
Memori wanita akan konflik lebih nyata & terperinci dibanding laki2. saat marah, sejumlah besar hormon dilepaskan ke aliran darah oleh otak. Pada wanita, kadar hormon itu kembali normal lebih lambat.

# Wanita, Memang Ingin Dimengerti
Kisah pertama tentang dua perempuan di bis…
sebut saja Mbak Sinta. Sebenarnya kakinya sedang sakit karena baru saja keseleo, misalnya. lalu saya melihatnya berdiri cukup lama, kasihan terlihat sangat capek. Saya tawarkan tempat duduk saya. Tapi dia jawab “Nggak kok, Nanti saja”, sambil tersenyum. Saya lihat senyuman itu senyuman yang berbeda. Saya mengerti dan saya tetap memberikan tempat duduk saya padanya.
Kisah kedua..
Seorang akhwat membawa galon yang beisi air minum. Cukup berat bagi seorang akhwat. Lalu, si ikhwan bertanya,”Berat gak?”. Si akhwat menjawab,”Gak!” dengan nada kesal. Ikhwan pun berlalu saja, tinggallah si akhwat dengan muka kesal dan ngomel, ih nyebelin, udah tau berat, tolongin kek.
Wanita jarang menunjukkan maksudnya dengan sebenarnya, karena dia ingin dimengerti!

# Emosional Yang Bergelombang
Saat gelombang naik, wanita akan menjadi sangat menyenangkan, penuh cinta, & tidak cerewet akan hal yg menbuatnya tidak nyaman. Saat gelombang turun, paling dasar, jangan heran, gesekan kecil pun akan membuatnya frustasi.
Secara ilmiah, maklum karena fluktuasi hormon wanita setiap bulannya.
Untuk mencapai puncak dimana seorang wanita bisa sangat menyenangkan, maka gelombang itu harus menyentuh dasarnya terlebih dahulu.

# Sang Pencemburu!!
Wanita akrab dengan kata-kata ini:
“wah, baju kamu bagus, beli dimana?”
“Duh, sepatu yang dipakai mbak itu cocok deh kayaknya buat aku”
Sifat cemburu adalah sifat dasar wanita. Toh, ummul mukmin saja bisa cemburu.
Aisyah ra. “Tidak pernah aku cemburu atas seorang perempuan sebesar kecemburuanku terhadap Khadjah. Karena Rasulullah saw. sering menyebut-menyebutnya dan menceritakan kebaikan Khadijah”

# Perempuan Lebih Mengingat
Perempuan memiliki tingkat aliran darah yang lebih tinggi ke sejumlah bagian otak, termasuk bagian yg mengendalikan bahasa. Konsentrasi hormon estrogen mengaktifkan lebih banyak sel saraf, meningkatkan aliran darah ke area tertentu ke otak, dan meningkatkan kompleksitas hubungan di antara sel saraf. Hal ini memungkinkan mengapa perempuan lebih baik dalam mengingat kata-kata.
Estrogen juga memicu mengingat kejadian yg memicu stres. Hal ini menyebabkan wanita lebih rentan merasa tertekan & mudah mengingat kejadian pahit/kesedihan. Inilah kenapa wanita lebih penakut dibanding laki-laki.

Finally, memang agak rumit tapi unik kan keprbadian seorang wanita?
Tapi berbanggalah kita menjadi seorang wanita karena wanita adalah makhluk Allah yang diciptakanNya secara istimewa.
Berwasiat baiklah kepada kaum wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika kamu meluruskannya, maka akan patah. Jika kamu biarkan, ia akan tetap bengkok.

Rabu, 06 April 2011

Nikah Itu (Gak) Mudah

Bismillahirrahmanirrahim…
Tulisan pertamaku tentang pernikahan (red:munakahat).
Butuh nyali yang besar untuk membuat catatan tentang suatu masalah yang saya sendiri belum punya pengalaman menjalaninya. Tapi, setidaknya saya ingin mencoba menuangkan opini yang ada di dalam kepala ini..Mudah-mudahan bermanfaat.

Mengapa saya menulis judulnya nikah itu (gak) mudah?
Karena mudah atau tidak itu adalah persepsi masing-masing, ya, antara mudah mudah sulit lah.
Saya pernah merasakan ingin sekali nikah muda, waktu SMA kelas 2, gara-gara khatam membaca buku NPSP nya Salim A Fillah. Sebuah keinginan sesaat, Cuma keinginan tanpa didasari ilmu.
Kini saya benar-benar menyadari, menikah itu bukan perkara yang gampang.
Seperti kata guru agama saya dulu, menikah itu indah dalam bayangan, sederhana dalam kenyataan. Menikah itu juga bukan selesai pada urusan yang indah saja, bagi para akhwat mungkin seringkali mengidamankan jika menikah maka akan ada yang melindungi, kalau sholat ada yang ngimamin (toeng!), atau kalau pergi kemana-mana ada yang nganterin..
Hufh, tidak selesai sampai urusan itu saja girls..

Saya terus teringat petuah ‘mbak’ saya. Nikah itu butuh ilmu. Jadi sibukkanlah diri kita dengan mencari ilmunya, bukan jodohnya ...Begitu banyak mereka yang mengatakan siap menikah, padahal belum memenuhi kriteria siap itu, dan banyak yang memutuskan untuk menikah tapi belum siap menjadi orang tua. Nah loh? Afwan, bukan maksud menjudge atau gimana, saya mau sharing aja sedikit.. Dan makin saya pelajari, ternyata memang ilmu saya masih jauh dari kesiapan untuk menikah. So, apa saja yang mesti disiapin?

1. Persiapan Moral dan Spiritual
Jika mau menikah, maka mantapkan niat. Itu artinya kita harus siap akan segala konsekuensinya. Kita harus siap untuk membuka diri kita untuk berinteraksi dengan orang baru dalam hidup kita. Akhwat harus siap dengan segala intervensi dari sang mitra hidup, yaitu sang suami. Kenapa saya katakan intervensi? Iya, karena suami adalah pemimpin dan istri harus taat pada setiap perintah suami (selagi masih dalam ketaatan pada Allah), siap untuk diatur pastinya. Sampai urusan berpakaian pun mungkin butuh pendapat sang suami. Yang dulu ketaatan seorang anak perempuan adalah pada kedua orang tuanya, maka setelah menikah, ketaatan seorang perempuan berpindah pada suaminya (udah siap gak girls?)

2. Persiapan Konsep atau Ilmu
Banyak ilmu yang baiknya dikuasai sebelum menikah. Menikah itu butuh visi yang jelas. Alangkah baiknya ketika kita memiliki konsep yang jelas keluarga seperti apa yang mau kita bangun. Siapkan ilmu bagaimana menjadi istri/suami yang baik, contoh: bagaimana sikap yang ahsan bagi seorang istri ketika menegur suami jika suami berbuat salah, atau bagaimana ilmunya mengurus dan mendidik anak (ini yang jauh lebih penting).

3. Persiapan Fisik
Yup, pastikan fisik kita dalam keadaan sehat, apalagi bagi akhwat nih. Ketika menikah maka bukan lagi hanya mengurus diri sendiri, tapi juga sang teman hidup dan rumah tangga. Jika punya penyakit ya buru-buru diobatin sebelum menikah, cek kesehatan itu perlu. Mulai jaga makanan kita dari sekarang, jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan berpengawet, dsb (anak kesehatan lebih tau).

4. Persiapan Materi (Maal)
Ternyata materi/maal/harta itu penting buat nikah. Hal ini gak bisa dipungkiri. Materi bukan hanya urusan calon suami, calon istri nih juga bisa menyiapkan harta. Kenapa? Kita harus siap dengan kondisi dimana tidak semua kebutuhan nanti bisa terpenuhi oleh suami. Disini peran sang istri. Uang tabungan yang sudah disiapkan dari jauh hari itu bisa dipakai.

5. Persiapan Sosial
Menikah bukan hanya menyatukan dua orang saja, tapi dua belah pihak keluarga. Harus ada kesiapan secara mental dan ilmu untuk mendekati keluarga kita dan keluarga pasangan kita. Mulailah untuk memperkenalkan keluarga kita masing-masing dengan islam, bagaimana pernikahan dalam islam, dsb. Jangan sampai ada adu argumen menjelang pernikahan, dimana orang tua biasanya memaksakan konsep resepsi yang gak islami sedangkan kita ingin yang seislami mungkin (waduh, repot ya?). Dan yang pasti, kita harus siap menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga baru yang mungkin berbeda adat dan kebiasaannya.

Itu poin-poin persiapan yang sebaiknya kita kuasai sebelum memutuskan memilih si dia menjadi teman hidup yang saya dapat, itu baru secuil ilmunya. Selanjutnya, adapun tanda-tanda seseorang sudah siap moral dan spiritual adalah ketika ia punya azzam yang bulat, sudah siap dengan resiko pernikahan, dan sudah dewasa dalam beribadah dan mengambil keputusan.
Apapun itu, sulit atau mudahnya ada di tangan kita. Tapi sekali lagi, mempersiapkan diri dengan mempelajari ilmunya adalah lebih baik daripada kita sibuk bertanya-tanya apalagi searching-searching siapakah si dia yang akan menjadi pendamping kita. Toh, jodoh itu sudah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan di dunia ini.
Wallahualam bishowab.

Aku pun sedang belajar untuk mempersiapkan diri untuk seseorang yang kuyakin ia pun juga sedang sibuk menyiapkan dan memperbaiki dirinya.
Biarkan cinta itu tumbuh menjadi semangat untuk memperbaiki diri.
Walau tak tahu seperti apa dan siapa dia, tapi aku yakin akan janjiMu Allah
Entah dengan cara apa dan bagaimana, sebelum waktunya tiba, kuletakkan cintaku hanya padaMu Allah
Jagalah hatiku, jagalah hatinya, hingga kelak Kau pertemukan disaat yang tepat menurutMu
Amin ya Robbal Alamin

Kamis, 31 Maret 2011

Kenyataan Mimpi

Mimpi….
Ya? Itu karena terlalu memikirkannya
Tidak, tak sempat aku pikirkan
Mimpi….
Mungkin karena kau lihat peristiwa yang sama
Salah, kisahku tak ada yang menyamainya
Mimpi….
Mungkin hanya permainan lelapmu
Ah, mana sempat dalam lelap aku bermain
Kalau begitu, apa mimpi itu?
Mimpiku ini tak serupa dengan mimpi-mimpi yang lain
Aku bermimpi karena hati dan rasaku membawa ke alam
Alam yang menyadarkan bahwa ia masih ada dan tetap ada
untuk tersenyum dan menyapa diriku,
dan itu nyata….

Rabu, 16 Maret 2011

Apa itu Syiar?

Sudah hampir sama dengan usiaku di kampus ini aku mendengar kata SYIAR..hingga kata-kata itu akrab dan mendarah daging (*yang ini agak lebay)
Jadi terpikirkan untuk menuangkan apa yang ada di pikiran ini yang tak dapat aku rangkaikan dengan kata-kata.
pertanyaannya, apa itu syiar?
sampai saat ini pun saya masih bingung mengkomposisikan kalimat yang pas untuk menerjemahkannya.

Syiar itu penting. Setiap lembaga pasti mensyiarkan. Kenapa?
Lembaga dakwah khususnya (karena saya berkecimpung disana) pasti memiliki cara untuk menunjukkan kalau mereka ada, bahasa kerennya eksistensi lembaga. Nah, cara mereka untuk menunjukkan eksistensi itu adalah dengan syiar. Jadi bisa dikatakan syiar adalah ujung tombak keberadaan suatu lembaga dakwah di mata masyarakat, jika itu lembaga dakwah kampus maka tujuannya agar eksis dalam masyarakat kampus.
Lalu apa hubungan syiar dan eksistensi? Tentu saja banyak.
Eksistensi itu erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan yang keberadaannya terasa oleh orang lain. Kebermanfaatan suatu lembaga dakwah yang dapat dirasakan oleh setiap orang otomatis menjadikan lembaga dakwah itu eksis.

Selama ini, lembaga dakwah kita (di kampus saya) tenggelam seiring berjalannya waktu. Entah itu dari kegiatan-kegiatannya yang monoton, sehingga timbul kejumudan (baca:bosan) dari pengelola lembaga dakwah itu sendiri karena syiarnya salah sasaran. Iya, target syiar adalah massa ammah, mereka yang mau kita sentuh dengan nilai-nilai Islam. Tapi agenda syiar yang ada malah dari kita dan untuk kita saja.
Saya sering bertanya kenapa itu terjadi dan mencoba mencari jawabannya sendiri.
Salah sekian dari analisa saya yang juga terinspirasi dari tulisan seorang al akh,pengelola syiar gamais (kalau gak salah), adalah karena kita belum memiliki pilar yang jelas dalam syiar lembaga dakwah kampus ini.
Syiar yang mengakar kuat tentu punya pilar yang jauh lebih kuat pula.
Berikut pilar yang sebaiknya dimiliki oleh lembaga dakwah (Ryan alfian:2009):

1. Syiar Multimedia

Syiar multimedia merupakan kegiatan syiar yang dilaksanakan dalam rangka membangun paradigma serta brand positif objek dakwah. Media yang biasa digunakan adalah media kertas dan media maya. Media kertas biasanya ditempel pada papan pengumuman yang berada ditempat strategis, yaitu tempat dimana sering dilewati objek dakwah. Media dibuat semenarik mungkin dan “eye catching” sehingga mau tidak mau bagi mereka yang melewati media ini pasti akan melihatnya terlebih dahulu karena menarik. Media yang ditempel hendaknya bervariasi dari waktu kewaktu sehingga mereka yang lewat di tempat itu tidak bosan melihat media kita. Dan diharapkan dengan seringnya kebiasaan mereka melihat media yang dibuat maka pesan-pesan yang ingin disampaikan akan tersampaikan dengan baik dan citra LDK akan menjadi lebih baik dan dikenal luas oleh objek dakwah.

Begitu pula dengan media maya, pengoptimalan fungsi facebook, friendster, flixster, website dan lainnya akan membantu kegiatan syiar kita juga untuk orang zaman digital ini.

2. Humas Internal Kampus

Syiar yang dilakukan harus mengakar kedalam seluruh elemen-elemen kampus. Untuk itu media tidaklah cukup memegang tantangan tersebut. Perlu ada sebuah fungsi tambahan lagi agar seluruh elemen kampus tersentuh oleh syiar. Maka dari itu lahirlah hubungan masyarakat internal kampus (HIK) untuk menjawab tantangan ini. Elemen internal kampus terdiri dari Rektorat, Karyawan, Unit Tata Usaha, Unit Kegiatan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, Keluarga Mahasiswa, dan lain-lain. HIK berfungsi untuk melakukan menjalin hubungan baik terhadap elemen internal kampus tersebut. Dengan adanya hubungan yang baik, maka akan timbul respect dan trust antara keduanya. Dari sanalah mulai kita pengaruhi/tawarkan nilai-nilai islam kepada mereka. Dengan demikian, bukanlah sebuah euphoria bahwa syiar mampu mengakar kedalam seluruh elemen-elemen kampus.

3. Kajian/Ta’lim

Ta’lim dan kajian merupakan kegiatan syiar berbasis kegiatan/event yang dilakukan dalam rangka membentuk kerangka berpikir yang benar tentang Islam. Kegiatan Ta’lim dan kajian sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan momentum yang tepat. Ketepatan momentum yang diambil akan menentukan keberhasilan kajian atau ta’lim karena orang-orang cenderung tertarik kepada hal yang baru dan yang hangat. Ketika momentum pemilu tiba, maka saya pikir tema “Islam Menjawab Tantangan Politik” merupakan tema yang tepat untuk diangkat dalam syiar kajian. Begitu pula dengan momentum lainnya. Adapun ketika momentum “Valentine’s Day” tiba, maka ta’lim yang bertemakan “Cinta dalam Islam” merupakan tema yang cocok pula untuk diangkat. Kekuatan kajian dan ta’lim akan lebih kuat lagi ketika diisi oleh pembicara yang memiliki kompetensi dalam bidangnya dan tempat yang sejuk dan nyaman. Satu lagi yang penting adalah materi ta’lim atau kajian harus disesuaikan dengan pesertanya, jangan terlalu ringan ataupun terlalu berat.

4. Litbang

Rhenald Kasali mengatakan dalam bukunya, Recode Your Change DNA, bahwa “organisasi yang tidak berubah, maka ia akan tergilas oleh tantangan zaman.” Setiap organisasi punya umur hidupnya masing-masing bergantung sampai mana kekuatan mereka untuk bertahan menghadapi tantangan zaman. Begitu pula dengan LDK. Adanya globalisasi dan masuknya budaya barat telah mengintervensi pemikiran-pemikiran pemuda Islam menjadi jauh dari agamanya. Syiar berfungsi meng-counter hal tersebut. Namun kegiatan syiar yang tidak diimbangi dengan penelitian dan pengembangan akan menyebabkan ketidakefektifan dan keefesienan dari kegiatan tersebut. Bisa jadi kegiatan syiar beberapa tahun lalu tidak akan efektif lagi dilakukan kembali saat ini karena tantangan zaman telah berubah. Untuk itulah, kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) itu menjadi hal yang sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan kualitas kegiatan syiar kita agar dapat mengimbangi intervensi-intervensi pemikiran yang terus berkembang pula saat ini.

5. Syiar PMB (Pelayanan MaBa)

Mahasiswa Baru merupakan sasaran “empuk” kegiatan syiar. Mengapa demikian? Karena pikiran mereka yang masih bersih, belum terkotori oleh ideologi manapun yang ada dikampus. Untuk itu seharusnya LDK harus berada di barisan depan dalam melaksanakan kegiatan syiar untuk menanamkan paradigma pikiran yang baik tentang islam pada mereka. Acara penyambutan syiar yang baik akan sangat berkesan bagi mereka, sehingga mereka akan mulai memupuk respek dan kepercayaan mereka pada LDK tersebut. Maka bukan tidak mungkin, mereka akan berbondong-bondong mendaftarkan dirinya untuk dapat aktif didalam organisasi itu karena mereka merasa nyaman atas pelayanannya.

6. Kepanitiaan

Satu lagi pilar penting adalah kepanitiaan. Kegiatan kepanitiaan menjadi penting karena dari kegiatan-kegiatan kepanitiaan inilah eksistensi dari LDK menjadi terlihat oleh objek dakwah. Dengan adanya eksistensi Gamais maka hal itu pulalah yang membuat objek dakwah kita tahu bahwa sebenarnya kita ada. Selain itu, kepanitiaan menjadi sarana yang baik pula untuk mengasah soft skill para kader LDK untuk memanajemen sebuah kegiatan. Kelebihan lainnya adalah kepanitiaan juga dapat menjadi daya tarik objek dakwah kita untuk berpartisipasi bersama kita. Dengan demikian objek dakwah pun mampu menjadi subjek dakwah juga.

Izinkan saya untuk menambahi sedikit, syiar butuh orang yang kreatif dan mencintai syiar itu sendiri. Karena berbeda ketika syiar ini dipegang oleh orang-orang yang memang mau dan kompeten dengan orang-orang yang bukan minatnya disana. Kerja syiar adalah melayani dan umat akan merasakan pelayanan yang utuh jika yang memberi melakukannya dengan hati. Lalu kreatif dan inisiatif juga tak kalah penting. Orang-orang berjiwa syiar harusnya punya daya kreatifitas yang baik dan mampu membaca peluang. Ya, itu idealnya, sangat ideal memang. Sekali lagi, saya pun bukanlah orang yang sangat kreatif tapi setidaknya saya mencintai syiar itu sendiri.
Belajar untuk memperbaiki dan membangun semangat di internal syiar itu sendiri. Karena jika internal kita sudah solid secara struktural, konsepan dan pengelolaan insyaallah syiar islam yang mengakar dalam semua elemen kampus itu bukan hanya mimpi.

Sabtu, 21 Mei 2011

Antara Proses dan Hasil

Percaya gak, hasil itu gak penting?
Mungkin sebagian besar orang akan menjawab tidak. Setiap orang berorientasi pada hasil dalam melakukan apapun, semua ingin hasil yang terbaik sebagai reward dari apa yang sudah dilakukan.
# Saya pun sepakat
Saya sepakat bahwa hasil itu penting, tapi proses dalam mendapatkan hasil itu jauh lebih penting.
Allah sendiri pun menegaskan hal itu,"Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu" (Q.S. 9: 105).
Tugas kita bekerja dengan sebaik-baiknya bukan mendapat hasil yang sebaik-baiknya. Itu karena Allah menilai bagaimana kita bekerja, karena hasil itu urusan Allah.
Banyak hikmah yang tersembunyi di balik ayat ini. Hikmah yang bisa disingkap oleh hati mereka yang yakin proses yang baik adalah untuk hasil yang baik. Tidak ada rasa kecewa ketika setelah bekerja dengan sebaik-baiknya lalu menyerahkan semua keputusannya pada Allah.

# Proses sebagai pondasi
Saya tidak mengatakan kalau proses yang panjang itu lebih baik daripada proses yang singkat. Jika proses singkat namun berkualitas, itu lebih baik. Yang pasti manusia yang mengalami proses untuk menjadi lebih baik itu biasanya lebih memiliki pondasi yang kuat. Lebih mampu bertahan ketika niat menjadi pribadi yang lebih baik itu tergoyahkan.
Sudah banyak contoh yang saya temukan untuk pribadi-pribadi instan yang rapuh sekali. Begitu cepat mereka berubah, sampai memaksakan diri menjadi orang lain. Dan mereka jugalah orang-orang yang begitu cepatnya berubah kembali. Rasanya aneh, ketika mereka sudah tahu - lalu berubah menjadi sempurna - lalu pura-pura tidak tahu.

Entahlah, bagaimana kau menginterpretasikan maksud tulisan saya ini teman.
Saya cuma ingin mengatakan, proses itu indah. Seperti kupu-kupu. Sebelum menjadi kupu-kupu, mereka harus menjadi ulat dulu lalu kepompong, baru bisa bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang indah.
Begitu pun manusia. Saya lebih suka ketika kita menikmati setiap proses pembelajaran dalam menjadikan diri menjadi lebih baik, karena proses itu mengajarkan kita untuk paham, menghayati untuk apa berubah?

Teruntuk semua orang yang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, maka berproseslah, hayati setiap hal baik yang dilakukan.
*untuk adikku, ayuk lebih suka ketika kau memahami mengapa harus berjilbab, atau pake kaos kaki, atau halaqoh... semoga setiap prosesmu menjadikanmu seorang muslimah sejati, karena kesadaranmu sendiri.. ok? ^^

Senin, 11 April 2011

Tekadku Hari Ini

Aku mau memulai hari yang indah ini dengan semangat
semangat yang mampu membakar rasa sedih, menghalau resah hati
karena Allah telah memberi kenikmatan yang begitu berharga hari ini..
Alhamdulillah karena Allah masih membukakan mataku pagi ini
Allah masih mengizinkan jantungku berdetak sampai detik ini
Allah masih memberikan oksigen yang segar pagi ini

Aku mau menjalani hari ini dengan senyuman
senyuman yang mampu menebarkan bahagia di hati orang lain, membagi kebahagiaan
karena Allah menyukai hambaNya yang bersedekah walau hanya dengan senyuman itu...

Aku bahagia hari ini.....
fabiayyi alaa irabbikuma tukazziban

Jumat, 08 April 2011

Makalah Seminar Koloqium

MAKALAH KOLOQIUM MAHASISWA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Judul : Pemanfaatan Protein Hewani untuk Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis sp.)
Nama : Resti
NIM : 06071009036
Pembimbing: Drs. Kodri Madang, M.Si


Abstrak
Untuk mencapai produksi ikan yang maksimal, diperlukan pembudidayaan ikan secara intensif. Dalam pemeliharaan intensif, pemberian pakan mutlak dibutuhkan. Salah satu budidaya ikan yang telah lama dikembangkan di Indonesia adalah budidaya ikan nila. Ikan nila merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki banyak keunggulan. Ikan nila dapat berkembangbiak dengan cepat, oleh sebab itu pertumbuhannya harus diimbangi dengan pemberian pakan yang banyak dan mengandung protein tinggi. Pemanfaatan protein hewani diujicobakan pada jenis ikan Nila GIFT dan ikan nila merah. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui sumber protein hewani yang berpotensi sebagai pakan yang baik bagi pertumbuhan ikan nila. Hasil uji dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa silase jeroan ikan mengandung 18-20 % protein dan 17 asam amino sedangkan daging bekicot mengandung 35,56% protein, 37,77% karbohidrat dan 4,6% lemak.

Kata Kunci: Ikan Nila GIFT, ikan nila merah, daging bekicot, silase jeroan ikan, protein.

PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara dengan perairannya yang luas merupakan potensi alam yang sangat baik bagi pengembangan usaha perikanan. Budidaya ikan yang telah cukup lama dikembangkan di Indonesia di antaranya adalah budidaya ikan Nila GIFT (Genetic Farmed of Tilapia) dan ikan nila merah. Ikan Nila GIFT merupakan jenis ikan unggul hasil perkawinan silang ikan Nila lokal, sedangkan ikan nila merah merupakan persilangan Oreochromis niloticus dan Oreochromis hornorum.
Beberapa keunggulan yang dimiliki ikan nila yaitu bernilai ekonomis tinggi, benihnya mudah diperoleh, tahan tehadap penyakit, mudah berkembang biak, makan segala jenis pakan, batas toleransi lebar atau tahan terhadap perubahan lingkungan, dan bernilai gizi tinggi (Pongsapan, 1994; Pirzan dan Tahe, 1995 dalam Maretha, 2005). Budidaya ikan nila perlu mendapat perhatian karena dapat dimanfaatkan dalam pemenuhan gizi masyarakat dan membantu perekonomian sehingga dirasa perlu untuk membudidayakan ikan secara intensif. Pemberdayaan ikan secara intensif tentu membutuhkan adanya ketersediaan pakan ikan. Pakan berfungsi untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan. Dalam beberapa tahun terakhir ini, produksi ikan nila cenderung menurun. Faktor utama yang menyebabkan penurunan tersebut yaitu keterbatasan jumlah pakan, harga pakan relatif mahal, dan kandungan protein pakan yang rendah. Perkembangbiakan ikan nila yang relatif cepat tidak mampu diimbangi dengan ketersediaan pakan alami seperti plankton, hydrilla, dan ganggang yang banyak. Permasalahan tersebut perlu diatasi dengan pakan alternatif yang mengandung nilai protein tinggi, tersedia dalam jumlah cukup banyak, dan harga relatif murah. Salah satu alternatif untuk menekan biaya produksi pembuatan pakan adalah dengan memanfaatkan bahan baku lokal termasuk memanfaatkan limbah yang belum banyak dimanfaatkan, namun tetap memiliki kandungan protein yang tinggi.
Protein merupakan nutrisi yang paling dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan. Protein mengandung senyawa nitrogen selain karbon, hidrogen dan oksigen. Protein termasuk zat makanan yang sangat penting karena selain berfungsi sebagai bahan bakar bagi tubuh, juga tergolong zat pembangun dan pengatur (Jaya, 1982 dalam Isnaniati, 2004). Sumber protein untuk nutrisi ikan dapat berupa protein hewani maupun protein nabati. Namun, sumber protein hewani lebih baik dibandingkan protein nabati karena protein nabati hanya mengandung asam amino tertentu saja dan lebih sulit dicerna karena adanya selulosa. Menurut Mudjiman (1984) dikatakan bahwa protein sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk menghasilkan energi maupun untuk pertumbuhan. Adapun tingkat protein optimum dalam pakan untuk mendukung pertumbuhan ikan berkisar antara 25-50%. Menurut Lehninger (1994), protein ini nantinya akan dihidrolisis dengan bantuan enzim-enzim pencernaan sehingga terbentuklah asam amino.
Kebutuhan protein untuk ikan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti ukuran ikan, ketersediaan dan kandungan gizi pakan, keseluruhan kandungan energi yang dapat dicerna oleh ikan dan mutu protein tersebut. Mutu protein tergantung pada kuantitas dan kualitas asam amino esensial yang terkandung di dalamnya serta daya serapnya (bioavailability). Protein yang dicerna oleh ikan digunakan sebagai sumber energi untuk pembaruan/mengganti jaringan yang rusak dan pertumbuhan ikan (Kurniawan,2001). Penggunaan protein pakan akan sangat berguna jika semua protein tersebut digunakan untuk pertumbuhan atau perbaikan jaringan dan dapat dikatabolisme sebagai energi. Beberapa bahan baku yang dapat digunakan sebagai sumber protein adalah daging bekicot, cacing tanah, jeroan ikan, ikan teri, dan belut. Upaya pemanfaatan daging bekicot sebagai pakan ikan nila telah dilakukan oleh Maretha (2005), sedangkan pemanfaatan silase jeroan ikan oleh Isnaniati (2004). Diketahui bahwa pakan alternatif tersebut mengandung protein yang tinggi.
Berdasarkan informasi tersebut, maka dapat dirumuskan masalah dari makalah ini yaitu pakan manakah yang mengandung protein hewani tinggi dan bagaimana protein tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan nila. Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui pakan ikan yang mengandung protein hewani tinggi untuk pertumbuhan ikan nila. Selain itu, dengan adanya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan masyarakat bahwa ada alternatif sumber protein hewani yang mudah didapat dan lebih ekonomis untuk membantu pembudidayaan ikan nila. Untuk membatasi lingkup pembahasan, contoh protein hewani yang digunakan adalah daging bekicot dan silase jeroan ikan.


Ciri Morfologi Ikan Nila GIFT dan Ikan Nila Merah
Ikan Nila GIFT termasuk ke dalam filum Chordata, kelas Osteichthyes, ordo Perciformes, famili Chiclidae, genus Oreochromis, spesies Oreochromis niloticus, sedangkan spesies ikan nila merah adalah Oreochromis sp (Anonim, 2008). Menurut Iskandar dan Astuti (2000), warna tubuh ikan nila GIFT hitam, agak keputihan. Tubuh ikan Nila GIFT memanjang dengan perbandingan panjang dengan tinggi 2 : 1. Kepalanya relatif kecil dengan mulut berada di ujung kepala. Mata ikan Nila GIFT besar dan tidak menonjol, memiliki sirip punggung, sirip dada, sirip perut, sirip anus, dan sirip ekor.

Ikan nila merah memiliki sifat-sifat umum antara lain bentuk tubuh pipih dan berwarna kemerahan atau kuning keputihan (Putra, 2009). Akibat perkawinan atau persilangan alami antar genus maupun antar spesies tersebut timbul keragaman pewarnaan tersebut. Nila merah berbadan panjang dengan perbandingan antara panjang dan tinggi badan dua banding satu. Kemudian jika dipotong di bagian tengah dari tubuhnya memiliki perbandingan antara tinggi dan lebar badan empat banding satu. Jadi nila merah bisa dikatakan berbadan gepeng. Matanya kelihatan besar dan menonjol dengan warna kekuningan pada bagian tepinya.

Pertumbuhan dan perkembangan ikan dapat dipengaruhi oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Suhu, oksigen, kualitas dan kuantitas pakan serta ruang gerak bagi ikan termasuk faktor eksternal. Sedangkan faktor internalnya adalah keturunan, umur, resisten terhadap penyakit dan kemampuan dalam memanfaatkan pakan (Huet, 1979 dalam Maretha,2005). Ikan nila memiliki kebiasaan makan yang berbeda sesuai tingkatan usianya. Ikan muda membutuhkan protein lebih tinggi daripada ikan dewasa. Hal tersebut disebabkan karena ikan muda membutuhkan protein untuk pertumbuhan, sedangkan ikan dewasa menggunakan protein hanya untuk pemeliharaan. Ikan nila termasuk ikan omnivora, maka kebutuhan proteinnya berada di antara ikan karnivora dengan herbivora. Pada dasarnya dalam meramu pakan untuk ikan nila akan lebih mudah dan murah karena dapat memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitar kita.
Menurut Lehninger (1994), protein yang dikonsumsi oleh ikan nantinya akan dihidrolisis dengan bantuan enzim-enzim pencernaan sehingga terbentuklah asam amino. Asam amino tersebut akan diserap ke dalam usus halus dan dibawa oleh aliran darah menuju ke sel-sel tubuh yang membutuhkannya. Di dalam sel yaitu di bagian ribosom yang melekat pada retikulum endoplasma dengan bantuan energi dari mitokondria dan di bawah perintah inti sel, asam amino tersebut akan dibentuk kembali menjadi protein. Protein baru yang terbentuk itu nantinya akan digunakan sel tersebut untuk mempercepat laju mitosis sehingga terjadilah pertumbuhan. Selain itu, adanya jumlah protein yang cukup diperlukan untuk penyusunan struktur-struktur sel dan meregenerasi sel-sel yang sudah tua atau rusak. Oleh karena itu, semakin banyak asam amino yang terserap memungkinkan untuk menunjang pertumbuhan ikan menjadi lebih baik.

Komposisi Sumber Protein Hewani
Ada perbedaan komposisi sumber protein hewani terutama yang berasal dari bekicot (Achatina fulica) dan silase jeroan ikan. Daging bekicot mengandung gizi yang cukup tinggi terutama protein, diketahui bahwa bagi ikan protein merupakan sumber zat pembangun yang paling utama. Daging bekicot dapat diolah menjadi pakan ikan yang berprotein tinggi dan jumlahnya pun berlimpah. Umumnya ikan membutuhkan protein lebih banyak daripada hewan-hewan ternak di darat lainnya seperti unggas dan hewan menyusui. Dari hasil penelitian Hasan (1997) diketahui bahwa kandungan protein daging bekicot 64,14%, lemak 3,92%, Ca 6,93%, dan P 0,92%. Menurut Wijiyati, 1982 dalam Maretha, 2005, daging bekicot memiliki 17 macam asam amino yaitu arginin, histidin alanin asam aspartat, asam glutamat, glisin, prolin, serin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, sistein, fenilalanin, tirosin, treonin dan valin.
Sedangkan silase jeroan ikan merupakan penggunaan kembali limbah ikan guna memenuhi kebutuhan protein yang akan mendorong pertumbuhan ikan dan sebagai pakan yang efisien untuk ikan. Ditinjau dari ketersediaan bahan baku, pembuatan silase sangat cocok diterapkan di Indonesia karena memanfaatkan ikan-ikan yang tidak digunakan. Kelebihan dari produk silase menurut Afrianto dan Liviawaty (1989) adalah teknik pengerjaan mudah dan murah, tidak tergantung pada kuantitas atau kualits bahan baku yang digunakan, dapat dilakukan untuk memanfaatkan ikan-ikan yang tidak digunakan, dan pengolahan ikan menjadi silase tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Proses pengolahannya dilakukan dengan memanfaatkan enzim-enzim yang terdapat dalam tubuh ikan itu sendiri. Untuk membantu mempercepat prosesnya serta untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan cendawan, maka perlu ditambah asam yaitu asam formiat dan asam propionat (Mudjiman, 1995).
Silase ikan adalah bentuk hidrolisa protein dalam suasana asam sehingga mikroorganisme pembusuk tidak dapat hidup karena pH sekitar 4. Dalam suasana asam, hanya mikroorganisme tertentu yang dapat hidup (tumbuh), yang bukan bersifat pembusuk tetapi dapat menghidrolisa protein dan lemak. Keuntungan silase ikan yaitu proses pembuatannya yang tidak memerlukan energi tapi hanya memerlukan asam, dapat dilakukan dalam skala besar atau kecil dan pada pH yang lebih rendah dari 4,5, produk akan tetap steril. Silase ikan juga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan karena tidak ada bahan yang terbuang (Rahardi dkk, 2001 dalam Isnaniati, 2004). Menurut hasil penelitian, 4 kg silase ikan setara dengan 1 kg tepung ikan. Silase yang dibuat dari ikan utuh mengandung 70-74% air, 18-20% protein, 1-2% lemak, 4-6% abu (Suyanto, 2002 dalam Isnaniati, 2004). Pada protein jeroan ikan terdapat juga17 jenis asam amino, yaitu asam aspartat, asam glutamat, treonin, serin, prolin, glisin, alanin, sistein, valin, metionin, isoleusin, leusin, histidin, tirosin, fenilalanin, lisin dan arginin.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa daging bekicot lebih baik sebagai pakan ikan. Pertimbangan ini didasari oleh beberapa hal berikut, yaitu kandungan protein bekicot lebih tinggi sehingga kandungan asam amino essensial lebih banyak , daging bekicot lebih segar dibandingkan jeroan ikan. Tingkat kesegaran daging merupakan faktor yang penting. Menurut Rustamaji (2009), bahan mentah yang akan dikonsumsi harus mempunyai kesegaran yang baik.

Pemanfaatan Protein Hewani untuk Pertumbuhan Ikan Nila
Pemanfaatan protein hewani sebagai pakan telah dilakukan oleh Maretha (2005) dan Isnaniati (2004). Dalam penelitian Maretha, pemberian daging bekicot dilakukan dalam perlakuan dengan formulasi 60 g tepung daging bekicot, dedak halus 30 g, tepung tapioka 9,5 g dan garam 0,5 g, dilakukan dalam lima kali ulangan. Benih ikan Nila GIFT yang dijadikan sampel berumur 3 bulan. Setiap hari ikan diberi makan sebanyak 4% dari total berat badan setelah pengukuran. Pemberian pakan dengan cara ditebarkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berat badan ikan Nila GIFT bertambah secara signifikan. Protein merupakan komponen utama yang membentuk jaringan tubuh ikan yaitu sekitar 65-75% dari total berat badan ikan.
Kebutuhan protein ikan Nila GIFT dalam pakan berkisar antara 20-30%, jadi daging bekicot dengan kandungan protein 35,56 % melebihi kebutuhan untuk pertumbuhan ikan. Kelebihan protein akan menghasilkan energi yang digunakan untuk proses pembongkaran atau deaminasi untuk membuang sisa metabolisme sehingga energi tersebut tidak digunakan secara maksimal. Hal tersebut dapat dilihat dari berat badan yang bertambah signifikan namun pertambahan panjang, tinggi dan lebar ikan kurang signifikan. Namun dari tabel 1 dapat disimpulkan bahwa parameter yang diukur mengalami pertambahan seiring dengan bertambahnya umur ikan. Pertambahan panjang total, panjang panjang baku, tinggi badan, lebar badan dan berat badan dihitung dari pengukuran saat umur ikan 5 bulan dikurang pengukuran saat ikan berumur 3 bulan. Daging bekicot juga mengandung lemak yang cukup tinggi. Dapat dilihat pengaruh kadar lemak tersebut dari berat badan ikan Nila GIFT yang mengalami pertambahan yang cukup signifikan.

Tabel 1. Pertumbuhan Ikan Nila GIFT yang Diberi Pakan Daging Bekicot (Maretha, 2005)
Parameter Umur Ikan (bulan) Pertambahan
3 3,5 4 4,5 5
Panjang total 5,07 6,76 6,86 7,63 7,99 2,92
Panjang baku 4,52 5,03 5,92 6,55 7,19 2,67
Tinggi badan 1,30 1,52 1,97 2,07 2,10 0,80
Lebar badan 0,64 0,76 0,84 1,02 1,07 0,43
Berat badan 3,04 6,64 18,73 32,81 35,78 32,74

Pemberian silase jeroan ikan pada ikan nila merah oleh Isnaniati (2004) dilakukan dengan pembuatan silase limbah jeroan ikan yang kemudian dijadikan sebagai bahan penyusun pakan. Prinsip penggunaan silase jeroan ikan adalah menurunkan pH jeroan ikan agar pertumbuhan dan perkembangan bakteri pembusuk berhenti. Kadar protein yang baik untuk ikan nila adalah 20-25%, sedangkan silase jeroan ikan hanya mengandung 18- 20 % protein. Pertambahan berat badan pada ikan nila merah yang diberi silase jeroan ikan lebih kecil dibandingkan pada ikan Nila GIFT yang diberi tepung daging bekicot (ditunjukkan pada tabel 2).
Kualitas silase tergantung dari bahan yang digunakan, teknik pembuatan dan kegiatan organisme. Pada penelitian Isnaniati, pembuatan silase menggunakan jeroan ikan yang mengandung kadar lemak cukup tinggi sehingga silase jeroan ikan yang dihasilkan memiliki kadar lemak cukup tinggi juga. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya oksidasi dari lemak yang akan menghasilkan senyawa peroksida dan akhirnya menurunkan mutu dari pakan tersebut. Silase dengan pH sekitar 4,5 diperkirakan masih ada mikroorganisme yang tidak diinginkan sehingga dapat menghambat pertumbuhan ikan (Ensminger dkk, 1990 dalam Isnaniati, 2004).

Tabel 2. Pertumbuhan Ikan Nila Merah yang Diberi Pakan Silase Jeroan Ikan (Isnaniati, 2004)
Parameter Umur Ikan (hari) Pertambahan
30 40 50 60 70
Panjang total 6,20 7,63 8,93 10,48 11,75 5,55
Panjang baku 150 156,50 167,00 175,50 190,25 40,25
Tinggi badan 120 124,50 132,25 139,00 150,50 30,5
Lebar badan 42,25 42,75 44,25 46,25 49,50 7,25
Berat badan 19,65 20,88 21,85 23,20 25,05 5,4

Berdasarkan informasi tersebut, daging bekicot dan silase jeroan ikan dapat dijadikan alternatif protein hewani untuk pakan ikan nila yang dapat meningkatkan laju pertumbuhan. Mengingat pentingnya protein bagi pertumbuhan, maka ikan nila harus mendapatkan protein yang cukup dan seimbang. Apabila protein yang dibutuhkan kurang, maka ikan akan merombak lemak dan karbohidrat yang dikandungnya. Jika terjadi perombakan lemak, maka kandungan asam amino esensial akan berkurang. Kekurangan akan asam amino esensial akan menyebabkan perubahan struktur membran sel dan mengakibatkan perubahan permeabilitas membran sel. Aktivitas enzim-enzim di dekat mitokondria menjadi terganggu karena perubahan permeabilitas itu. Selanjutnya akan terjadi gangguan metabolisme energi sehingga sintesis protein terganggu dan akhirnya pertumbuhan menjadi rendah (Fleisher dkk, 1962 dalam Isnaniati, 2004).
Protein diserap dalam bentuk asam amino, yang dibawa ke hati untuk dibentuk menjadi protein lagi, sesuai dengan kebutuhan ikan. Zat-zat makanan yang telah diserap oleh darah kemudian diedarkan ke seluruh tubuh untuk keperluan metabolisme, pembentukan zat-zat (senyawa) yang lebih kompleks disebut anabolisme, seperti pembentukan protein dari asam-asam amino. Pemecahan senyawa kompleks untuk menghasilkan energi disebut katabolisme, seperti pemecahan karbohidrat menjadi tenaga, air dan karbondioksida. Pada hewan darat, penggunaan sumber energi pertama yaitu karbohidrat, lalu lemak, dan terakhir protein. Pada ikan terjadi sebaliknya, pertama protein, disusul lemak, kemudian karbohidrat.
Protein dalam makanan (pakan) dapat menghasilkan asam amino dengan proses hidrolisis. Hidrolisis protein dengan asam atau basa menghasilkan suatu campuran asam amino bebas sebagai unit pembangunnya. Asam amino yang terbentuk akan diabsorpsi dan dibawa oleh darah menuju sel-sel yang membutuhkan. Di dalam mitokondria, terbentuk asetil koA yaitu senyawa penghubung antara metabolisme asam amino dengan siklus asam sitrat (merubah menjadi energi). Pada siklus asam sitrat, reaksi metabolisme asam amino meliputi reaksi pelepasan gugus asam amino dan perubahan kerangka karbon. Terjadi proses transaminasi yaitu katabolisme asam amino berupa pemindahan gugus amino dari suatu asam amino ke senyawa lain seperti asam piruvat, ketoglutarat atau oksaloasaetat. Sehingga (keto) senyawa tersebut diubah menjadi asam amino, sedangkan asam amino diubah menjadi senyawa keto. Senyawa-senyawa yang dihasilkan dari siklus asam sitrat akan diubah kembali menjadi asam amino sebagai protein baru. Protein yang baru terbentuk akan digunakan sel untuk mempercepat proses mitosis sel. Makin banyak protein yang dibentuk, maka makin mempercepat pembelahan sel sehingga terjadilah pertumbuhan (Unair, 2009).

Penutup
Daging bekicot dan silase jeroan ikan merupakan pakan alternatif yang mengandung protein hewani tinggi. Kandungan protein daging bekicot 35,56%, sedangkan silase jeroan ikan 20 % dapat memenuhi kebutuhan pertumbuhan ikan nila. Namun, daging bekicot lebih baik daripada silase jeroan ikan karena nilai proteinnya lebih tinggi dan tingkat kesegaran daging lebih tinggi sehingga lebih baik untuk pakan. Protein pada daging bekicot lebih tinggi sehingga kandungan asam amino juga lebih banyak, jadi pertumbuhan dapat berlangsung lebih cepat. Selain itu, daging bekicot mengandung lemak lebih tinggi sehingga menambah berat badan ikan nila.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Seputar Budidaya Ikan. http://www.scribd.com/doc/23026245/BUDIDAYA-IKAN-NILA. Diakses tanggal 12 Mei 2010.

Afrianto, E dan E, Liviawaty. 1989. Pengawetan dan Pengolahan Ikan. Kanisius. Yogyakarta.
Bhaswaradharmacakti. 2009. Ikan Nila GIFT. http://bhaswaradharmacakti.blog.com/files/2009/08/nila-bogor-21-300x225.jpg. Diakses tanggal 17 Mei 2010.

Diskan. 2009. Ikan Nila Merah. http://www.diskan.jabar.go.id/images/galeri/Nila%20Merah.JPG. Diakses tanggal 17 Mei 2010.


Iskandar dan S. Astuti. 2000. Pengaruh Jumlah dan Frekuensi Pemberian Pakan terhadap Pertumbuhan Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus). Laporan Penelitian. Fakultas Pertanian UNPAD. Bandung Jayanto, Adi D. Budidaya Ikan Nila.
Isnaniati, S. 2004. Pertumbuhan Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) yang Diberi Pakan Silase Jeroan Ikan dan Sumbangannya pada Pelajaran Biologi di SMA. Skripsi. FKIP Universitas Sriwijaya. Inderalaya.
Kurniawan, D. Upaya Meramu Pakan Ikan Tanpa Minyak dan Tepung Ikan. http://defishery.wordpress.com/2009/11/08/manajemen-pakan/. Diakses tanggal 12 Mei 2010.
Lehninger, A.L. 1994., Dasar-Dasar Biokimia. Alih Bahasa Maggy Thenawijaya. Erlangga. Jakarta.
Maretha, Delima Engga. 2005. “Efek Pemberian Pakan Campuran Tepung Daging Bekicot (Achatina fulica) dan Ampas Tahu Terhadap Pertumbuhan Ikan Nila GIFT (Oreochromis niloticus) dan Model Pembelajarannya Pada Mata Pelajaran Biologi di Sekolah Menengah Atas”. Skripsi. Inderalaya: Jurusan FKIP Biologi Universitas Sriwijaya.
Mudjiman, A. 1995. Makanan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta.
Putra. 2009. Ikan Nila Merah (Oreochromis sp). http://whedacaine.wordpress.com/2009/08/01/ikan-nila-merah-oreochromis-sp/. Diakses tanggal 17 Mei 2010.

Rustamaji. 2009. Aktivitas Enzim Katepsin dan Kolagenase dari Daging Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskall) Selama Periode Kemunduran Mutu Ikan. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/ bitstream/123456789/ 13733/2/C09rus.pdf. Diakses tanggal 17 Mei 2010.

Unair. 2009. Metabolisme Asam Amino Protein. http://www.diskan.jabar.go.id/ images/ galeri/ Nila% 20-Merah. JPG. Diakses tanggal 19 Mei 2010.

Wirabakti, Murrod Candra. “Laju Pertumbuhan Ikan Nila Merah (Oreochromis niloticus) Yang Dipelihara Pada Perairan Rawa Dengan Sistem Karamba Dan Kolam”. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(1) : 61-70.

Uniknya Dunia Cewek

Cerita kali ini berawal dari memori saya akan pengajian angkatan yang dilaksanakan oleh anak-anak FKIP biologi 2007 dua tahun yang lalu, ketika saya masih sebagai kadept kerohanian HMB. Karena mayoritas penghuni kelas kami adalah cewek, so tema waktu itu yang diangkat adalah menguak kepribadian cewek yang asyik dan unik. Referensi saya waktu itu adalah dengan membaca buku Psikogirly nya Deasylawati P.
Kepribadian cewek itu memang unik dan rumit bagi mereka yang tidak mengerti
(biasanya bagi cowok nih). Banyak fakta yang menunjukkan kalau cewek itu hobinya cerita, kalau sudah ngumpul, pasti rame. Cewek juga suka komentar, cewek itu cerewet dan yang pasti cewek itu penakut (katanya).
Ternyata mempelajari kepribadian /psikologi itu menyenangkan. Tidak selamanya yang kita dengar kalau cewek itu repot dan nyebelin itu benar. Segala hal yang membuat cewek jadi seperti itu sebenarnya sudah dapat dijelaskan secara ilmiah. Mulai dari mengapa cewek itu senang sekali berbicara, suka menangis, dan emosinya labil.
Secara ilmiah, jantung wanita (cewek ganti wanita aja ya) itu diciptakan lebih kecil ukurannya dibandingkan laki-laki. Detaknya pun seringkali tidak normal, ini dipengaruhi oleh hormone…wanita merupakan makhluk yang mudah menangkap makna kata-kata lisan, mereka lebih mudah mengingat kata-kata yang dianggap berkesan. Wanita juga memiliki kelebihan pandai dalam menangkap ekspresi wajah orang lain.

Berikut keunikan Wanita:
1. Otaknya.
Sel-sel otak perempuan akan menumbuhkan lebih banyak jembatan2 yang menghubungkan pusat-pusat komunikasi. Inilah yang menyebabkan wanita itu suka berbicara. Wanita bisa menggunakan sekitar 20.000 kata per hari sedangkan laki-laki hanya 7000 kata per harinya. Rahasia otak wanita nih:
- wanita memiliki lebih banyak sel saraf di sebelah kiri otaknya, yang menjadi dasar kemampuan memproses bahasa.
- Wanita memiliki lebih banyak dopamine di sisi otak yang mengendalikan bahasa. Dopamine ini merupakan pembawa pesan kimiawi yng bertanggung jawab atas keterampilan bahasa dan memori.
- Otak wanita mampu membaca suasana hati dan emosi. Wanita lebih cepat memahami emosi seseorang hanya dengan melihat ekspresi wajah ataupun nada bicara. Bukan berarti laki-laki gak bisa loh, tapi memang wanita disetting untuk memiliki kelebihan itu.
- Otak wanita adalah otak yang takut konflik. Wanita cenderung menghindari konflik dan itu terlihat dari kecil saat mereka bergaul. Anak perempuan sering menggunakan kata-kata seperti ini: “Ayo kita main rumah-rumahan” atau meminta persetujuan teman2nya: “Saya yang menjadi dokter ya?”. Berbeda dengan anak laki-laki yang cenderung memerintah anak lain.
- Pada wanita, konflik lebih besar memacu stress dan gelisah. Memori mereka sangat kuat untuk sesuatu yang tidak menyenangkan.

2. Hormonnya
Ternyata hormon estrogen bukan hanya bertanggungjawab atas fase menstruasi, tetapi juga berefek pada cara wanita belajar, berpikir dan mengingat. Homon sangat mempegaruhi fluktuasi emosi dan suasana hati wanita. PMS (Pre Menstrual Syndrome) yaitu sekumpulan gejala berupa gangguan fisik dan mental yang dialami wanita menjelang menstruasi dan menghilang beberapa hari setelahnya. Ini sangat mengganggu wanita, baik fisik (nyeri) atau mental (mudah tersinggung dan sensitif).
Bahkan kalau ada yang parah, bisa sampai sakit yang benar-benar sakit loh. Saya punya teman yang setiap bulannya bisa sampai muntah menahan sakit. Kalau saya sendiri, pasti mengalami fluktuasi emosi itu. Perasaan mudah marah, tersinggung itu hampir dialami oleh setiap wanita jika masa PMS. Ini yang kurang dipahami oleh laki-laki. Biasanya wanita yang sedang seperti itu akan mudah terganggu oleh gangguan sepele. Iya, masalah sepele dan gesekan-gesekan kecil bisa jadi masalah besar saat itu.

Wanita itu....
# Sang Pembicara
Bagi wanita, komunikasi adalah kebutuhan utama. Berbagi perasaan jauh lebih penting dibanding kompetisi. Dr.John Gray,Ph.D mengatakan bahwa jika mengalami ketegangan, wanita mencari kelegaan dg menemui orang yg dipercayainya, kemudian cerita secara detail, baru merasa lebih nyaman. Otaknya disetting merasa lebih baik dg berbicara. Oksitosin yg berperan memotivasinya.
Apa yg terjadi ketika wanita marah?
Memori wanita akan konflik lebih nyata & terperinci dibanding laki2. saat marah, sejumlah besar hormon dilepaskan ke aliran darah oleh otak. Pada wanita, kadar hormon itu kembali normal lebih lambat.

# Wanita, Memang Ingin Dimengerti
Kisah pertama tentang dua perempuan di bis…
sebut saja Mbak Sinta. Sebenarnya kakinya sedang sakit karena baru saja keseleo, misalnya. lalu saya melihatnya berdiri cukup lama, kasihan terlihat sangat capek. Saya tawarkan tempat duduk saya. Tapi dia jawab “Nggak kok, Nanti saja”, sambil tersenyum. Saya lihat senyuman itu senyuman yang berbeda. Saya mengerti dan saya tetap memberikan tempat duduk saya padanya.
Kisah kedua..
Seorang akhwat membawa galon yang beisi air minum. Cukup berat bagi seorang akhwat. Lalu, si ikhwan bertanya,”Berat gak?”. Si akhwat menjawab,”Gak!” dengan nada kesal. Ikhwan pun berlalu saja, tinggallah si akhwat dengan muka kesal dan ngomel, ih nyebelin, udah tau berat, tolongin kek.
Wanita jarang menunjukkan maksudnya dengan sebenarnya, karena dia ingin dimengerti!

# Emosional Yang Bergelombang
Saat gelombang naik, wanita akan menjadi sangat menyenangkan, penuh cinta, & tidak cerewet akan hal yg menbuatnya tidak nyaman. Saat gelombang turun, paling dasar, jangan heran, gesekan kecil pun akan membuatnya frustasi.
Secara ilmiah, maklum karena fluktuasi hormon wanita setiap bulannya.
Untuk mencapai puncak dimana seorang wanita bisa sangat menyenangkan, maka gelombang itu harus menyentuh dasarnya terlebih dahulu.

# Sang Pencemburu!!
Wanita akrab dengan kata-kata ini:
“wah, baju kamu bagus, beli dimana?”
“Duh, sepatu yang dipakai mbak itu cocok deh kayaknya buat aku”
Sifat cemburu adalah sifat dasar wanita. Toh, ummul mukmin saja bisa cemburu.
Aisyah ra. “Tidak pernah aku cemburu atas seorang perempuan sebesar kecemburuanku terhadap Khadjah. Karena Rasulullah saw. sering menyebut-menyebutnya dan menceritakan kebaikan Khadijah”

# Perempuan Lebih Mengingat
Perempuan memiliki tingkat aliran darah yang lebih tinggi ke sejumlah bagian otak, termasuk bagian yg mengendalikan bahasa. Konsentrasi hormon estrogen mengaktifkan lebih banyak sel saraf, meningkatkan aliran darah ke area tertentu ke otak, dan meningkatkan kompleksitas hubungan di antara sel saraf. Hal ini memungkinkan mengapa perempuan lebih baik dalam mengingat kata-kata.
Estrogen juga memicu mengingat kejadian yg memicu stres. Hal ini menyebabkan wanita lebih rentan merasa tertekan & mudah mengingat kejadian pahit/kesedihan. Inilah kenapa wanita lebih penakut dibanding laki-laki.

Finally, memang agak rumit tapi unik kan keprbadian seorang wanita?
Tapi berbanggalah kita menjadi seorang wanita karena wanita adalah makhluk Allah yang diciptakanNya secara istimewa.
Berwasiat baiklah kepada kaum wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika kamu meluruskannya, maka akan patah. Jika kamu biarkan, ia akan tetap bengkok.

Rabu, 06 April 2011

Nikah Itu (Gak) Mudah

Bismillahirrahmanirrahim…
Tulisan pertamaku tentang pernikahan (red:munakahat).
Butuh nyali yang besar untuk membuat catatan tentang suatu masalah yang saya sendiri belum punya pengalaman menjalaninya. Tapi, setidaknya saya ingin mencoba menuangkan opini yang ada di dalam kepala ini..Mudah-mudahan bermanfaat.

Mengapa saya menulis judulnya nikah itu (gak) mudah?
Karena mudah atau tidak itu adalah persepsi masing-masing, ya, antara mudah mudah sulit lah.
Saya pernah merasakan ingin sekali nikah muda, waktu SMA kelas 2, gara-gara khatam membaca buku NPSP nya Salim A Fillah. Sebuah keinginan sesaat, Cuma keinginan tanpa didasari ilmu.
Kini saya benar-benar menyadari, menikah itu bukan perkara yang gampang.
Seperti kata guru agama saya dulu, menikah itu indah dalam bayangan, sederhana dalam kenyataan. Menikah itu juga bukan selesai pada urusan yang indah saja, bagi para akhwat mungkin seringkali mengidamankan jika menikah maka akan ada yang melindungi, kalau sholat ada yang ngimamin (toeng!), atau kalau pergi kemana-mana ada yang nganterin..
Hufh, tidak selesai sampai urusan itu saja girls..

Saya terus teringat petuah ‘mbak’ saya. Nikah itu butuh ilmu. Jadi sibukkanlah diri kita dengan mencari ilmunya, bukan jodohnya ...Begitu banyak mereka yang mengatakan siap menikah, padahal belum memenuhi kriteria siap itu, dan banyak yang memutuskan untuk menikah tapi belum siap menjadi orang tua. Nah loh? Afwan, bukan maksud menjudge atau gimana, saya mau sharing aja sedikit.. Dan makin saya pelajari, ternyata memang ilmu saya masih jauh dari kesiapan untuk menikah. So, apa saja yang mesti disiapin?

1. Persiapan Moral dan Spiritual
Jika mau menikah, maka mantapkan niat. Itu artinya kita harus siap akan segala konsekuensinya. Kita harus siap untuk membuka diri kita untuk berinteraksi dengan orang baru dalam hidup kita. Akhwat harus siap dengan segala intervensi dari sang mitra hidup, yaitu sang suami. Kenapa saya katakan intervensi? Iya, karena suami adalah pemimpin dan istri harus taat pada setiap perintah suami (selagi masih dalam ketaatan pada Allah), siap untuk diatur pastinya. Sampai urusan berpakaian pun mungkin butuh pendapat sang suami. Yang dulu ketaatan seorang anak perempuan adalah pada kedua orang tuanya, maka setelah menikah, ketaatan seorang perempuan berpindah pada suaminya (udah siap gak girls?)

2. Persiapan Konsep atau Ilmu
Banyak ilmu yang baiknya dikuasai sebelum menikah. Menikah itu butuh visi yang jelas. Alangkah baiknya ketika kita memiliki konsep yang jelas keluarga seperti apa yang mau kita bangun. Siapkan ilmu bagaimana menjadi istri/suami yang baik, contoh: bagaimana sikap yang ahsan bagi seorang istri ketika menegur suami jika suami berbuat salah, atau bagaimana ilmunya mengurus dan mendidik anak (ini yang jauh lebih penting).

3. Persiapan Fisik
Yup, pastikan fisik kita dalam keadaan sehat, apalagi bagi akhwat nih. Ketika menikah maka bukan lagi hanya mengurus diri sendiri, tapi juga sang teman hidup dan rumah tangga. Jika punya penyakit ya buru-buru diobatin sebelum menikah, cek kesehatan itu perlu. Mulai jaga makanan kita dari sekarang, jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan berpengawet, dsb (anak kesehatan lebih tau).

4. Persiapan Materi (Maal)
Ternyata materi/maal/harta itu penting buat nikah. Hal ini gak bisa dipungkiri. Materi bukan hanya urusan calon suami, calon istri nih juga bisa menyiapkan harta. Kenapa? Kita harus siap dengan kondisi dimana tidak semua kebutuhan nanti bisa terpenuhi oleh suami. Disini peran sang istri. Uang tabungan yang sudah disiapkan dari jauh hari itu bisa dipakai.

5. Persiapan Sosial
Menikah bukan hanya menyatukan dua orang saja, tapi dua belah pihak keluarga. Harus ada kesiapan secara mental dan ilmu untuk mendekati keluarga kita dan keluarga pasangan kita. Mulailah untuk memperkenalkan keluarga kita masing-masing dengan islam, bagaimana pernikahan dalam islam, dsb. Jangan sampai ada adu argumen menjelang pernikahan, dimana orang tua biasanya memaksakan konsep resepsi yang gak islami sedangkan kita ingin yang seislami mungkin (waduh, repot ya?). Dan yang pasti, kita harus siap menyesuaikan diri dengan lingkungan keluarga baru yang mungkin berbeda adat dan kebiasaannya.

Itu poin-poin persiapan yang sebaiknya kita kuasai sebelum memutuskan memilih si dia menjadi teman hidup yang saya dapat, itu baru secuil ilmunya. Selanjutnya, adapun tanda-tanda seseorang sudah siap moral dan spiritual adalah ketika ia punya azzam yang bulat, sudah siap dengan resiko pernikahan, dan sudah dewasa dalam beribadah dan mengambil keputusan.
Apapun itu, sulit atau mudahnya ada di tangan kita. Tapi sekali lagi, mempersiapkan diri dengan mempelajari ilmunya adalah lebih baik daripada kita sibuk bertanya-tanya apalagi searching-searching siapakah si dia yang akan menjadi pendamping kita. Toh, jodoh itu sudah tertulis jauh sebelum kita dilahirkan di dunia ini.
Wallahualam bishowab.

Aku pun sedang belajar untuk mempersiapkan diri untuk seseorang yang kuyakin ia pun juga sedang sibuk menyiapkan dan memperbaiki dirinya.
Biarkan cinta itu tumbuh menjadi semangat untuk memperbaiki diri.
Walau tak tahu seperti apa dan siapa dia, tapi aku yakin akan janjiMu Allah
Entah dengan cara apa dan bagaimana, sebelum waktunya tiba, kuletakkan cintaku hanya padaMu Allah
Jagalah hatiku, jagalah hatinya, hingga kelak Kau pertemukan disaat yang tepat menurutMu
Amin ya Robbal Alamin

Kamis, 31 Maret 2011

Kenyataan Mimpi

Mimpi….
Ya? Itu karena terlalu memikirkannya
Tidak, tak sempat aku pikirkan
Mimpi….
Mungkin karena kau lihat peristiwa yang sama
Salah, kisahku tak ada yang menyamainya
Mimpi….
Mungkin hanya permainan lelapmu
Ah, mana sempat dalam lelap aku bermain
Kalau begitu, apa mimpi itu?
Mimpiku ini tak serupa dengan mimpi-mimpi yang lain
Aku bermimpi karena hati dan rasaku membawa ke alam
Alam yang menyadarkan bahwa ia masih ada dan tetap ada
untuk tersenyum dan menyapa diriku,
dan itu nyata….

Rabu, 16 Maret 2011

Apa itu Syiar?

Sudah hampir sama dengan usiaku di kampus ini aku mendengar kata SYIAR..hingga kata-kata itu akrab dan mendarah daging (*yang ini agak lebay)
Jadi terpikirkan untuk menuangkan apa yang ada di pikiran ini yang tak dapat aku rangkaikan dengan kata-kata.
pertanyaannya, apa itu syiar?
sampai saat ini pun saya masih bingung mengkomposisikan kalimat yang pas untuk menerjemahkannya.

Syiar itu penting. Setiap lembaga pasti mensyiarkan. Kenapa?
Lembaga dakwah khususnya (karena saya berkecimpung disana) pasti memiliki cara untuk menunjukkan kalau mereka ada, bahasa kerennya eksistensi lembaga. Nah, cara mereka untuk menunjukkan eksistensi itu adalah dengan syiar. Jadi bisa dikatakan syiar adalah ujung tombak keberadaan suatu lembaga dakwah di mata masyarakat, jika itu lembaga dakwah kampus maka tujuannya agar eksis dalam masyarakat kampus.
Lalu apa hubungan syiar dan eksistensi? Tentu saja banyak.
Eksistensi itu erat kaitannya dengan kegiatan-kegiatan yang keberadaannya terasa oleh orang lain. Kebermanfaatan suatu lembaga dakwah yang dapat dirasakan oleh setiap orang otomatis menjadikan lembaga dakwah itu eksis.

Selama ini, lembaga dakwah kita (di kampus saya) tenggelam seiring berjalannya waktu. Entah itu dari kegiatan-kegiatannya yang monoton, sehingga timbul kejumudan (baca:bosan) dari pengelola lembaga dakwah itu sendiri karena syiarnya salah sasaran. Iya, target syiar adalah massa ammah, mereka yang mau kita sentuh dengan nilai-nilai Islam. Tapi agenda syiar yang ada malah dari kita dan untuk kita saja.
Saya sering bertanya kenapa itu terjadi dan mencoba mencari jawabannya sendiri.
Salah sekian dari analisa saya yang juga terinspirasi dari tulisan seorang al akh,pengelola syiar gamais (kalau gak salah), adalah karena kita belum memiliki pilar yang jelas dalam syiar lembaga dakwah kampus ini.
Syiar yang mengakar kuat tentu punya pilar yang jauh lebih kuat pula.
Berikut pilar yang sebaiknya dimiliki oleh lembaga dakwah (Ryan alfian:2009):

1. Syiar Multimedia

Syiar multimedia merupakan kegiatan syiar yang dilaksanakan dalam rangka membangun paradigma serta brand positif objek dakwah. Media yang biasa digunakan adalah media kertas dan media maya. Media kertas biasanya ditempel pada papan pengumuman yang berada ditempat strategis, yaitu tempat dimana sering dilewati objek dakwah. Media dibuat semenarik mungkin dan “eye catching” sehingga mau tidak mau bagi mereka yang melewati media ini pasti akan melihatnya terlebih dahulu karena menarik. Media yang ditempel hendaknya bervariasi dari waktu kewaktu sehingga mereka yang lewat di tempat itu tidak bosan melihat media kita. Dan diharapkan dengan seringnya kebiasaan mereka melihat media yang dibuat maka pesan-pesan yang ingin disampaikan akan tersampaikan dengan baik dan citra LDK akan menjadi lebih baik dan dikenal luas oleh objek dakwah.

Begitu pula dengan media maya, pengoptimalan fungsi facebook, friendster, flixster, website dan lainnya akan membantu kegiatan syiar kita juga untuk orang zaman digital ini.

2. Humas Internal Kampus

Syiar yang dilakukan harus mengakar kedalam seluruh elemen-elemen kampus. Untuk itu media tidaklah cukup memegang tantangan tersebut. Perlu ada sebuah fungsi tambahan lagi agar seluruh elemen kampus tersentuh oleh syiar. Maka dari itu lahirlah hubungan masyarakat internal kampus (HIK) untuk menjawab tantangan ini. Elemen internal kampus terdiri dari Rektorat, Karyawan, Unit Tata Usaha, Unit Kegiatan Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, Keluarga Mahasiswa, dan lain-lain. HIK berfungsi untuk melakukan menjalin hubungan baik terhadap elemen internal kampus tersebut. Dengan adanya hubungan yang baik, maka akan timbul respect dan trust antara keduanya. Dari sanalah mulai kita pengaruhi/tawarkan nilai-nilai islam kepada mereka. Dengan demikian, bukanlah sebuah euphoria bahwa syiar mampu mengakar kedalam seluruh elemen-elemen kampus.

3. Kajian/Ta’lim

Ta’lim dan kajian merupakan kegiatan syiar berbasis kegiatan/event yang dilakukan dalam rangka membentuk kerangka berpikir yang benar tentang Islam. Kegiatan Ta’lim dan kajian sebaiknya dilaksanakan sesuai dengan momentum yang tepat. Ketepatan momentum yang diambil akan menentukan keberhasilan kajian atau ta’lim karena orang-orang cenderung tertarik kepada hal yang baru dan yang hangat. Ketika momentum pemilu tiba, maka saya pikir tema “Islam Menjawab Tantangan Politik” merupakan tema yang tepat untuk diangkat dalam syiar kajian. Begitu pula dengan momentum lainnya. Adapun ketika momentum “Valentine’s Day” tiba, maka ta’lim yang bertemakan “Cinta dalam Islam” merupakan tema yang cocok pula untuk diangkat. Kekuatan kajian dan ta’lim akan lebih kuat lagi ketika diisi oleh pembicara yang memiliki kompetensi dalam bidangnya dan tempat yang sejuk dan nyaman. Satu lagi yang penting adalah materi ta’lim atau kajian harus disesuaikan dengan pesertanya, jangan terlalu ringan ataupun terlalu berat.

4. Litbang

Rhenald Kasali mengatakan dalam bukunya, Recode Your Change DNA, bahwa “organisasi yang tidak berubah, maka ia akan tergilas oleh tantangan zaman.” Setiap organisasi punya umur hidupnya masing-masing bergantung sampai mana kekuatan mereka untuk bertahan menghadapi tantangan zaman. Begitu pula dengan LDK. Adanya globalisasi dan masuknya budaya barat telah mengintervensi pemikiran-pemikiran pemuda Islam menjadi jauh dari agamanya. Syiar berfungsi meng-counter hal tersebut. Namun kegiatan syiar yang tidak diimbangi dengan penelitian dan pengembangan akan menyebabkan ketidakefektifan dan keefesienan dari kegiatan tersebut. Bisa jadi kegiatan syiar beberapa tahun lalu tidak akan efektif lagi dilakukan kembali saat ini karena tantangan zaman telah berubah. Untuk itulah, kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang) itu menjadi hal yang sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan kualitas kegiatan syiar kita agar dapat mengimbangi intervensi-intervensi pemikiran yang terus berkembang pula saat ini.

5. Syiar PMB (Pelayanan MaBa)

Mahasiswa Baru merupakan sasaran “empuk” kegiatan syiar. Mengapa demikian? Karena pikiran mereka yang masih bersih, belum terkotori oleh ideologi manapun yang ada dikampus. Untuk itu seharusnya LDK harus berada di barisan depan dalam melaksanakan kegiatan syiar untuk menanamkan paradigma pikiran yang baik tentang islam pada mereka. Acara penyambutan syiar yang baik akan sangat berkesan bagi mereka, sehingga mereka akan mulai memupuk respek dan kepercayaan mereka pada LDK tersebut. Maka bukan tidak mungkin, mereka akan berbondong-bondong mendaftarkan dirinya untuk dapat aktif didalam organisasi itu karena mereka merasa nyaman atas pelayanannya.

6. Kepanitiaan

Satu lagi pilar penting adalah kepanitiaan. Kegiatan kepanitiaan menjadi penting karena dari kegiatan-kegiatan kepanitiaan inilah eksistensi dari LDK menjadi terlihat oleh objek dakwah. Dengan adanya eksistensi Gamais maka hal itu pulalah yang membuat objek dakwah kita tahu bahwa sebenarnya kita ada. Selain itu, kepanitiaan menjadi sarana yang baik pula untuk mengasah soft skill para kader LDK untuk memanajemen sebuah kegiatan. Kelebihan lainnya adalah kepanitiaan juga dapat menjadi daya tarik objek dakwah kita untuk berpartisipasi bersama kita. Dengan demikian objek dakwah pun mampu menjadi subjek dakwah juga.

Izinkan saya untuk menambahi sedikit, syiar butuh orang yang kreatif dan mencintai syiar itu sendiri. Karena berbeda ketika syiar ini dipegang oleh orang-orang yang memang mau dan kompeten dengan orang-orang yang bukan minatnya disana. Kerja syiar adalah melayani dan umat akan merasakan pelayanan yang utuh jika yang memberi melakukannya dengan hati. Lalu kreatif dan inisiatif juga tak kalah penting. Orang-orang berjiwa syiar harusnya punya daya kreatifitas yang baik dan mampu membaca peluang. Ya, itu idealnya, sangat ideal memang. Sekali lagi, saya pun bukanlah orang yang sangat kreatif tapi setidaknya saya mencintai syiar itu sendiri.
Belajar untuk memperbaiki dan membangun semangat di internal syiar itu sendiri. Karena jika internal kita sudah solid secara struktural, konsepan dan pengelolaan insyaallah syiar islam yang mengakar dalam semua elemen kampus itu bukan hanya mimpi.